Jemaah Haji Lansia Hanya Melintas di Muzdalifah untuk Mencegah Penumpukan

oleh -4 Dilihat
Jemaah Haji Lansia Hanya Melintas di Muzdalifah untuk Mencegah Penumpukan

KabarDermayu.com – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menerapkan skema khusus bernama ‘murur’ bagi jemaah haji Indonesia yang lanjut usia (lansia) dan berisiko tinggi saat puncak ibadah haji. Skema ini bertujuan untuk mencegah penumpukan jemaah di Muzdalifah.

Melalui skema murur, jemaah lansia dan pendampingnya akan langsung diberangkatkan menuju Mina. Mereka tidak perlu turun dan bermalam (mabit) di Muzdalifah. Tujuannya adalah untuk melindungi kondisi kesehatan jemaah yang rentan.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Puji Raharjo, menjelaskan bahwa keterbatasan ruang di Muzdalifah menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, jemaah yang masuk kategori risiko tinggi, lansia, memiliki komorbid, serta pendampingnya akan langsung dibawa ke Mina dari Arafah menggunakan bus.

Puji Raharjo menyatakan bahwa jemaah yang menerapkan skema murur akan langsung naik bus dari Arafah menuju Mina setelah melaksanakan wukuf. Dengan demikian, mereka tidak perlu turun di Muzdalifah atau menunggu hingga tengah malam untuk melanjutkan perjalanan.

Hal ini berbeda dengan jemaah yang dalam kondisi sehat. Mereka tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum diberangkatkan menuju Mina setelah lewat tengah malam. Mekanisme ini diharapkan dapat mencegah kepadatan yang pernah terjadi di musim haji sebelumnya.

Saat ini, PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih memfinalisasi mekanisme teknis pelaksanaan murur dan tanazul. Pembagian jemaah serta Standar Operasional Prosedur (SOP) juga terus disempurnakan. PPIH juga gencar berkoordinasi dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

Puji Raharjo berharap semua jemaah dapat mengikuti puncak ibadah haji dengan lancar, sehat, dan tanpa kendala yang berarti. Kepatuhan jemaah terhadap arahan petugas menjadi kunci keberhasilan skema Armuzna tahun ini.

Baca juga: GTA 6 Segera Buka Pre-Order dalam Waktu Dekat

Ia menekankan pentingnya menghindari masalah yang pernah terjadi di musim haji sebelumnya, seperti jemaah yang terlambat keluar dari Muzdalifah atau bahkan harus berjalan kaki karena kepadatan. Skema murur dirancang untuk mencegah hal tersebut.

Selain skema murur, PPIH juga akan menempatkan petugas lebih awal di Arafah dan Mina. Sejumlah petugas akan disiagakan khusus di Mina sebelum puncak haji dimulai. Tugas mereka adalah membantu kedatangan jemaah dan memastikan mereka menempati tenda dengan tepat.

Beberapa petugas yang disiagakan khusus di Mina kemungkinan tidak akan melaksanakan ibadah haji. Prioritas mereka adalah memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Hal ini dilakukan agar jemaah tidak tersesat dan mendapatkan pelayanan yang optimal.

Petugas yang ditempatkan di Mina merupakan individu yang memiliki pengalaman dan telah beberapa kali berhaji. Selain itu, PPIH juga tetap menyiapkan layanan safari wukuf khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas.

Jumlah peserta safari wukuf tahun ini direncanakan sekitar 300 hingga 400 orang. Angka ini telah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan pengawasan kondisi jemaah yang lebih ketat, baik sejak di Indonesia maupun di Arab Saudi.

Menjelang puncak haji, Puji Raharjo mengingatkan jemaah untuk menjaga kondisi fisik mereka. Ia berpesan agar jemaah tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat sebelum wukuf di Arafah. Puncak ibadah haji adalah di Arafah, sehingga penting untuk menjaga stamina hingga waktu tersebut.