KabarDermayu.com – Indonesia telah membuktikan kapasitasnya di kancah global dalam hal kemampuan teknis dan sumber daya manusia untuk menggarap proyek-proyek kilang minyak dan gas bumi (migas). Pengakuan ini datang seiring dengan kemajuan signifikan yang dicapai oleh para insinyur nasional sejak awal tahun 2000-an.
Pada era tersebut, kontraktor-kontraktor nasional mulai mampu membangun kilang migas secara mandiri. Proyek-proyek ambisius seperti Kilang Langit Biru di Balongan, yang juga dikenal sebagai proyek Kilang Merah-Putih, serta proyek Recycle Offgas to Propylene Project (ROPP), menjadi bukti nyata kemampuan tersebut.
Keberhasilan ini menempatkan Indonesia di antara segelintir negara di dunia yang insinyurnya memiliki kompetensi dalam merancang dan membangun kilang migas secara independen. Hal ini diakui oleh Triharyo Soesilo, yang akrab disapa Hengki, seorang tokoh yang telah banyak berkontribusi dalam industri kilang migas nasional.
Dengan semangat untuk mengurangi dominasi kontraktor asing, Hengki dan timnya di PT Rekayasa Industri (Rekind) berhasil menorehkan prestasi gemilang. Salah satu pencapaian monumental mereka adalah pembangunan pipa gas bawah laut yang menghubungkan Sumatera dan Jawa, sebuah proyek yang sebelumnya dianggap sulit direalisasikan oleh kontraktor nasional.
Lebih lanjut, para putra-putri bangsa ini juga menunjukkan keunggulannya dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Teknologi-teknologi yang sebelumnya dikuasai oleh pihak asing, kini mampu digarap sepenuhnya oleh tenaga ahli Indonesia.
“Kedua teknologi ini sebelumnya didominasi oleh kontraktor asing dan belum pernah dilakukan oleh kontraktor nasional,” ujar Hengki dalam sebuah keterangan pada Jumat, 3 Juli 2026.
Hengki juga membagikan pengalamannya saat menerima tugas berat sebagai Komisaris Utama (Komut) PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Tujuannya adalah mempercepat penyelesaian proyek-proyek kilang di Pertamina, seperti Proyek RDMP Balongan dan RDMP Balikpapan.
Saat menerima mandat pada pertengahan Juni 2020, Hengki menyadari tingginya frekuensi kebakaran di kilang Pertamina yang terjadi hampir setiap tiga bulan. Bersama timnya, ia berupaya keras memitigasi setiap penyebab kebakaran. Upaya ini membuahkan hasil positif, di mana semua akar permasalahan berhasil diatasi satu per satu oleh seluruh jajaran PT KPI.
Keberhasilan dalam mengatasi berbagai tantangan di proyek berskala besar ini, serta strategi untuk mendominasi pasar, diabadikan Hengki dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Menerobos Sumbatan”. Buku ini membuka wawasan publik mengenai berbagai rahasia di balik penyelesaian proyek-proyek strategis, termasuk sejarah biodiesel di Indonesia, penyelesaian proyek 35.000 MW, proyek LNG Tangguh-3, serta operasi intelijen dalam penyelesaian proyek pupuk di Aceh.
Pada Jumat, 3 Juli 2026, di Gedung Aula Barat, Kampus ITB, Triharyo Soesilo alias Hengki menerima penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi luar biasa Hengki dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan humaniora di Indonesia.
“Saya merasa berdosa,” ujar Hengki, merujuk pada kesadarannya akan urgensi isu perubahan iklim setelah mengikuti kuliah tentang pasar karbon di Yale University. Ia terkejut mengetahui prediksi dunia yang hanya menyisakan 21 tahun.
Menurutnya, para ahli dunia memperingatkan bahwa pemanasan global akan memicu cuaca ekstrem berupa kekeringan dan banjir berkepanjangan. Hal ini berpotensi menyebabkan kelangkaan pangan di masa depan. Kesadaran ini mendorong Hengki untuk terlibat aktif dalam pengembangan proyek-proyek karbon.
Beberapa proyek karbon yang sedang dikembangkan Hengki antara lain:
- Proyek Carbon Capture and Storage (CCS) untuk produksi amonia biru.
- Pemanfaatan biomassa menjadi biochar dan gas untuk pembangkit listrik.
- Penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) pada persawahan padi.
“Tujuan semua proyek itu adalah untuk membantu mengurangi emisi, dan mencegah terjadinya pemanasan global,” tegasnya.
Artikel terkait lainnya yang mungkin menarik adalah “Komut Pertamina: Inovasi, Profesionalisme, dan Empati Jadi Kunci Pelayanan kepada Masyarakat”, yang membahas pentingnya nilai-nilai tersebut dalam pelayanan publik di sektor energi.





