Kerugian Zuckerberg Rp68 Triliun di Metaverse, Apa yang Terjadi di Meta?

oleh -7 Dilihat
Kerugian Zuckerberg Rp68 Triliun di Metaverse, Apa yang Terjadi di Meta?

KabarDermayu.com – Meta Platforms, raksasa teknologi yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook, kembali menghadapi kenyataan pahit terkait investasinya di ranah metaverse. Divisi Reality Labs, yang menjadi ujung tombak ambisi dunia virtual perusahaan, dilaporkan membukukan kerugian operasional yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026.

Meskipun Meta telah menunjukkan pergeseran fokus strategis ke arah kecerdasan buatan (AI), proyek metaverse yang memakan biaya besar ini masih belum menunjukkan titik terang profitabilitas. Keadaan ini menjadi sorotan utama dalam laporan keuangan terbaru perusahaan.

Menurut laporan yang dikutip dari CNBC pada Kamis, 30 April 2026, Reality Labs mencatatkan kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar. Jika dikonversikan dengan kurs saat itu yang mencapai Rp17.000 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan kerugian mencapai Rp68,51 triliun. Angka ini cukup menguras pundi-pundi perusahaan.

Pendapatan yang berhasil dikumpulkan oleh divisi metaverse ini sendiri hanya sebesar US$402 juta, atau sekitar Rp6,83 triliun. Perbandingan antara kerugian dan pendapatan menunjukkan jurang pemisah yang sangat lebar, menegaskan bahwa visi metaverse masih jauh dari mencapai titik impas, apalagi menghasilkan keuntungan.

Meskipun demikian, angka kerugian ini ternyata masih lebih baik jika dibandingkan dengan proyeksi para analis di Wall Street. Mereka sebelumnya memperkirakan kerugian yang lebih besar, mencapai US$4,82 miliar, dengan estimasi pendapatan sebesar US$488,8 juta. Namun, perbaikan tipis ini tidak serta merta mengurangi besarnya tantangan yang dihadapi divisi metaverse.

Baca juga di sini: Bhayangkara FC Siap Hadapi Persib Bandung dengan Optimisme

Jika ditilik lebih jauh ke belakang, sejak akhir tahun 2020, total kerugian operasional yang telah dikumpulkan oleh Reality Labs telah mencapai lebih dari US$80 miliar. Angka ini setara dengan Rp1.360 triliun, menjadikannya salah satu investasi terbesar dan termahal dalam sejarah industri teknologi global.

Langkah besar Meta untuk merambah metaverse dimulai pada tahun 2021, ketika pendirinya, Mark Zuckerberg, memutuskan untuk mengganti nama perusahaan induk dari Facebook menjadi Meta Platforms. Perubahan nama ini merupakan manifestasi dari keyakinan Zuckerberg bahwa masa depan interaksi antarmanusia akan bergeser secara signifikan ke ranah dunia virtual.

Namun, visi ambisius ini kemudian dihadapkan pada gelombang baru teknologi yang tak terduga, yaitu ledakan kecerdasan buatan generatif. Fenomena ini dipicu oleh kehadiran ChatGPT dari OpenAI pada akhir tahun 2022, yang secara dramatis mengubah lanskap teknologi.

Sejak saat itu, Meta dinilai mulai tertinggal dalam perlombaan pengembangan AI jika dibandingkan dengan para pesaingnya yang agresif, seperti OpenAI, Anthropic, dan Google. Keterlambatan ini mendorong Meta untuk segera melakukan penyesuaian strategis.

Untuk mengejar ketertinggalan di sektor AI, Meta memutuskan untuk mengalokasikan investasi yang sangat besar. Dana tersebut diarahkan untuk membangun infrastruktur AI yang kokoh, mengembangkan model-model AI baru yang canggih, serta menciptakan berbagai layanan yang berbasis pada kecerdasan buatan.

Di sisi lain, sebagai konsekuensi dari pergeseran prioritas ini, divisi Reality Labs justru mengalami pemangkasan sumber daya. Langkah efisiensi ini terlihat jelas dari keputusan Meta untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.000 karyawan yang bekerja di divisi Reality Labs pada Januari 2026.

Tujuan utama dari PHK ini adalah untuk mengalihkan fokus dan sumber daya dari proyek-proyek yang berkaitan dengan realitas virtual (VR) menuju pengembangan perangkat wearable yang berbasis AI. Perubahan strategi ini juga dipengaruhi oleh kesuksesan yang tak terduga dari kacamata pintar Ray-Ban Meta, yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan EssilorLuxottica.

Produk kacamata pintar tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan perangkat VR tradisional yang selama ini menjadi fokus utama Reality Labs. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mungkin belum sepenuhnya siap atau tertarik dengan konsep metaverse yang ditawarkan Meta.

Tidak berhenti di situ, Meta kembali melanjutkan gelombang restrukturisasi dengan melakukan pemangkasan karyawan pada bulan Maret 2026. Kali ini, PHK tersebut berdampak pada ratusan karyawan yang tersebar di berbagai divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, tim operasional global, divisi rekrutmen, dan tim penjualan.

Lebih jauh lagi, perusahaan mengumumkan rencana yang lebih ambisius untuk melakukan pemangkasan sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya, yang setara dengan sekitar 8.000 karyawan. Bersamaan dengan itu, Meta juga memutuskan untuk menghentikan proses perekrutan untuk 6.000 posisi yang saat ini masih kosong.

Serangkaian langkah drastis ini secara jelas menggambarkan perubahan arah strategi Meta yang kini menjadi jauh lebih agresif dalam mengembangkan teknologi AI, dibandingkan dengan fokusnya pada metaverse. Meskipun demikian, perusahaan menegaskan bahwa mereka belum sepenuhnya meninggalkan ambisi untuk membangun dunia virtual tersebut.

Di tengah persaingan yang semakin ketat di industri teknologi global, Meta kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Perusahaan harus membuat pilihan strategis yang sulit: apakah akan terus menggelontorkan investasi besar ke dalam metaverse, dengan segala risiko kerugian jangka panjang yang menyertainya, ataukah akan memfokuskan seluruh energinya pada AI, yang saat ini tengah menjadi primadona dan memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar.