Kontak Terakhir Ibu dengan Jurnalis Thoudy Badai Sebelum Ditawan Israel

oleh -5 Dilihat
Kontak Terakhir Ibu dengan Jurnalis Thoudy Badai Sebelum Ditawan Israel

KabarDermayu.com – Ibu dari jurnalis Thoudy Badai, Hani Hanifa Humanisa (56), mengungkapkan detail komunikasi terakhir dengan putranya sebelum dilaporkan ditawan oleh tentara Israel. Thoudy Badai saat itu sedang dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Hani menjelaskan bahwa kontak terakhir dengan keluarga terjadi pada Senin, 18 Mei, pukul 02.19 WIB. Pada saat itu, Thoudy berada di perairan internasional, dalam perjalanannya dari Marmaris menuju Gaza.

“Itu kita masih kontak sampai terakhir kemarin hari Senin jam 02.19 WIB dan dia kirim pesan mengabarkan sudah sampai di perairan internasional yang berarti harusnya sudah aman,” ujar Hani di Bandung, Jawa Barat, pada Selasa.

Komunikasi selama perjalanan memang dilakukan secara terbatas. Hal ini dikarenakan kondisi di lapangan yang mengharuskan komunikasi dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja.

Baca juga: Kontrak Bojan Hodak Habis, Persib Terancam Sanksi Komdis PSSI

“Tidak terlalu sering komunikasi, paling kalau momen-momen tertentu saja. Biasanya kalau tukar shift atau kita tanya kondisi, ya hal-hal teknis seperti makan di mana atau lagi di mana,” jelasnya.

Sebelum keberangkatan, keluarga telah melakukan diskusi panjang mengenai risiko yang mungkin dihadapi. Hani Hanifa menegaskan bahwa kemungkinan terburuk telah disampaikan kepada Thoudy sejak awal.

“Kita sudah ngobrol panjang dengan Odi (Thoudy Badai). Saya tanya kondisi secara umum gimana, terus risikonya gimana, risiko yang paling jeleknya itu bagaimana. Kita sudah tahu kondisi di sana,” tuturnya.

Awalnya, Hani sempat tidak memberikan izin ketika Thoudy mengikuti pelatihan di Tunisia sebagai persiapan menuju Gaza. Namun, ia akhirnya memberikan izin setelah melihat keyakinan dan kesiapan yang ditunjukkan oleh putranya.

“Saat itu saya tidak kasih izin karena kekhawatiran yang sangat mendalam. Namun saya melihat ada passion (semangat) Odi sehingga jadi diizinkan,” ungkapnya.

Keputusan untuk mengizinkan keberangkatan Thoudy juga didasari oleh keyakinan yang disampaikan oleh putranya sendiri untuk mengikuti misi kemanusiaan tersebut.

Keluarga menyatakan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas situasi di lapangan. Oleh karena itu, mereka sepenuhnya menyerahkan penanganan kepulangan Thoudy kepada Pemerintah Indonesia.

“Kami menaruh kepercayaan penuh kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan jajaran terkait, yang kami yakini tengah bekerja melalui jalur diplomasi untuk memastikan keselamatan dan pemulangan relawan,” tegasnya.

Keluarga terus memantau perkembangan informasi terkait kondisi Thoudy Badai. Mereka juga menantikan kabar resmi dari pihak-pihak yang berwenang.

Harapan besar disematkan pada proses komunikasi dan upaya diplomatik yang sedang dilakukan. Keluarga berharap agar semua berjalan lancar sehingga para relawan yang terlibat dapat segera memperoleh kejelasan informasi mengenai kondisi mereka.