Mata Uang Terlemah Dunia: Rupiah Masuk 5 Besar

oleh -5 Dilihat
Mata Uang Terlemah Dunia: Rupiah Masuk 5 Besar

KabarDermayu.com – Nilai tukar mata uang merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur kondisi ekonomi suatu negara. Semakin kuat mata uang suatu negara terhadap dolar Amerika Serikat, semakin besar pula daya beli dan kepercayaan pasar global terhadap perekonomian negara tersebut.

Sebaliknya, pelemahan mata uang biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ini termasuk inflasi yang tinggi, ketidakstabilan politik, perlambatan ekonomi, hingga tekanan akibat utang luar negeri.

Pada tahun 2026, daftar mata uang terlemah di dunia kembali menjadi sorotan. Forbes Advisor telah merilis daftar negara dengan nilai mata uang paling rendah terhadap dolar AS. Data ini berdasarkan kurs per 5 Mei 2026.

Beberapa negara yang masuk dalam daftar ini memang telah lama menghadapi tekanan ekonomi. Namun, ada pula negara berkembang yang masih berjuang keras untuk menjaga stabilitas nilai tukarnya di tengah ketidakpastian global.

Yang menarik, rupiah Indonesia juga turut masuk dalam daftar ini. Meskipun Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak mata uang dunia lainnya.

Melansir dari Forbes, berikut adalah daftar lengkap 10 mata uang terlemah di dunia pada tahun 2026:

1. Rial Iran, IRR

Rial Iran menduduki posisi sebagai mata uang terlemah di dunia pada tahun 2026. Berdasarkan data Forbes Advisor, 1 dolar AS setara dengan sekitar 1.315.000 rial Iran. Melemahnya nilai rial ini sangat dipengaruhi oleh sanksi ekonomi internasional yang telah menekan perekonomian Iran selama bertahun-tahun.

Selain itu, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah juga semakin memperburuk kondisi mata uang negara tersebut. Iran sebenarnya adalah salah satu eksportir minyak dan gas terbesar di dunia. Namun, tekanan ekonomi eksternal terus membuat daya beli mata uangnya anjlok.

2. Pound Lebanon, LBP

Pound Lebanon menempati posisi kedua sebagai mata uang terlemah di dunia. Nilainya hanya sekitar 0,000011 dolar AS per 1 pound Lebanon. Ini berarti, 1 dolar AS dapat ditukar dengan sekitar 89.432 pound Lebanon. Krisis ekonomi yang berkepanjangan, inflasi yang tinggi, pengangguran, hingga gejolak politik menjadi faktor utama pelemahan mata uang Lebanon. Negara ini juga mengalami krisis perbankan yang cukup parah dalam beberapa tahun terakhir.

3. Dong Vietnam, VND

Dong Vietnam berada di posisi ketiga dalam daftar ini. Nilai tukarnya adalah sekitar 26.319 dong untuk mendapatkan 1 dolar AS. Vietnam dikenal sebagai negara dengan sektor manufaktur dan ekspor yang berkembang pesat. Namun, perlambatan ekspor global dan tingginya suku bunga AS turut memberikan tekanan pada mata uang negara tersebut. Meskipun demikian, ekonomi Vietnam masih tergolong sebagai salah satu yang tumbuh cukup stabil di Asia Tenggara.

4. Kip Laos, LAK

Mata uang Laos, kip, juga masuk dalam daftar mata uang terlemah di dunia pada tahun 2026. Untuk memperoleh 1 dolar AS, dibutuhkan sekitar 21.971 kip Laos. Negara ini menghadapi tekanan ekonomi akibat tingginya utang luar negeri, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Laos juga sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti emas, tembaga, dan kayu.

5. Rupiah Indonesia, IDR

Rupiah Indonesia menempati posisi kelima sebagai mata uang terlemah di dunia versi Forbes Advisor. Nilai tukarnya berada di kisaran Rp17.420 per 1 dolar AS. Untuk hari ini, Selasa, 12 Mei 2026, tercatat Rp17.505 per 1 dolar AS.

Namun demikian, tekanan inflasi global, kekhawatiran resesi, dan penguatan dolar AS tetap menjadi tantangan bagi stabilitas rupiah. Indonesia sendiri memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan sektor jasa dan komoditas sebagai penopang utamanya.

6. Som Uzbekistan, UZS

Som Uzbekistan berada di urutan keenam dengan nilai tukar sekitar 11.999 som per dolar AS. Uzbekistan memiliki sumber daya mineral, minyak, dan gas yang cukup besar. Meskipun telah melakukan reformasi ekonomi, negara ini masih menghadapi tantangan berupa inflasi, pengangguran, dan praktik korupsi.

7. Franc Guinea, GNF

Franc Guinea menjadi mata uang terlemah ketujuh di dunia pada tahun 2026. Nilainya adalah sekitar 8.777 franc Guinea untuk mendapatkan 1 dolar AS. Guinea sebenarnya kaya akan sumber daya alam seperti emas dan berlian. Namun, kondisi politik dan inflasi yang tinggi membuat nilai mata uangnya tertekan.

8. Franc Burundi, BIF

Franc Burundi juga masuk dalam daftar mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar AS. Saat ini, 1 dolar AS setara sekitar 2.983 franc Burundi. Negara di Afrika Timur tersebut sangat bergantung pada ekspor kopi dan teh.

Keterbatasan ekonomi dan tantangan pembangunan membuat mata uang Burundi belum mampu menguat secara signifikan.

9. Ariary Madagaskar, MGA

Ariary Madagaskar berada di posisi kesembilan. Nilai tukarnya adalah sekitar 4.162 ariary untuk 1 dolar AS. Perekonomian Madagaskar banyak ditopang oleh sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan. Negara ini juga dikenal sebagai eksportir vanila terbesar di dunia.

10. Guarani Paraguay, PYG

Guarani Paraguay melengkapi daftar 10 mata uang terlemah di dunia pada tahun 2026. Nilai tukarnya berada di kisaran 6.218 guarani per dolar AS. Tingginya inflasi, korupsi, dan peredaran uang palsu disebut menjadi faktor yang menekan mata uang Paraguay.

Apa Penyebab Mata Uang Melemah?

Nilai mata uang suatu negara dapat melemah karena berbagai faktor ekonomi maupun politik. Berikut adalah beberapa penyebab utama:

Baca juga: Ketua MPR RI: Lomba Cerdas Cermat di Kalbar Akan Diulang

  • Inflasi tinggi
  • Utang luar negeri meningkat
  • Ketidakstabilan politik
  • Perlambatan ekonomi
  • Tingkat pengangguran tinggi
  • Defisit perdagangan
  • Kebijakan bank sentral
  • Penguatan dolar AS secara global

Mata uang yang lemah tidak selalu berarti negara tersebut miskin. Beberapa negara memang sengaja mempertahankan nilai tukar rendah untuk mendukung ekspor agar lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, jika pelemahan terjadi akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, dampaknya bisa memicu kenaikan harga barang impor, inflasi, hingga menurunnya daya beli masyarakat.