KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.514 pada Selasa, 12 Mei 2026.
Posisi rupiah itu melemah 99 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.415 pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 13 Mei 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.514 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 14 poin atau 0,08 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.500 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir.
Bahkan, angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara G20.
Namun, angka pertumbuhan PDB tersebut harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year-on-year).
Padahal, kuartal I-2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir, yang hanya sebesar 4,87 persen.
Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, melainkan karena dibandingkan dengan titik yang memang sedang rendah.
Dalam pelajaran statistik, hal ini disebut sebagai base effect atau efek basis.
“Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I-2026 ini tak bisa dikatakan sehat,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 13 Mei 2026.
“Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai,” tambahnya.
Kemudian, Presiden Prabowo telah menegur Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, karena rupiah berada di dekat rekor terendah, sekitar Rp 17.500 per dolar.
Sentimen pasar juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April.
Ini merupakan penurunan pertama dalam sembilan bulan terakhir, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.
Selain itu, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah.
Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo, membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.
Lebih lanjut, pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global tersebut.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.520—Rp 17.580,” ujar Ibrahim.
Sebagai informasi, negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tampak rapuh.
Respons Teheran terhadap proposal AS menyoroti perbedaan mencolok yang membuat ketegangan kembali meningkat.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada hari Senin bahwa gencatan senjata dengan Iran “dalam kondisi kritis.”
Baca juga: Erupsi Gunung Semeru Terjadi Empat Kali dalam Satu Jam Pagi Ini, Kolom Abu Capai 1 Km
Hal ini menunjuk pada ketidaksepakatan atas beberapa tuntutan, seperti penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, dan kompensasi atas kerusakan perang.





