Mayoritas Warga AS Anggap Trump Tak Mampu Pimpin Negara

oleh -6 Dilihat
Mayoritas Warga AS Anggap Trump Tak Mampu Pimpin Negara

KabarDermayu.com – Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Washington Post-ABC News-Ipsos mengungkap pandangan mayoritas warga Amerika Serikat mengenai kemampuan Donald Trump dalam memimpin negara. Hasil survei ini menunjukkan tingkat keraguan yang signifikan di kalangan publik AS terhadap kepemimpinan sang presiden.

Survei yang dirilis pada Senin, 4 Mei, waktu setempat, menemukan bahwa sebagian besar responden menilai Trump tidak memiliki kapabilitas yang memadai, baik secara mental maupun fisik, untuk menjabat sebagai presiden. Penilaian ini muncul di tengah situasi yang masih terdampak oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebanyak 59 persen responden menyatakan bahwa Trump tidak memiliki ketajaman mental yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas sebagai panglima tertinggi. Hanya 40 persen yang berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa ia masih cukup mampu memimpin.

Dari sisi kesehatan fisik, 55 persen responden menilai kondisi fisik Trump tidak cukup baik untuk mengemban tugas kepresidenan. Sementara itu, 44 persen responden memiliki pandangan yang berbeda.

Lebih dari separuh responden, tepatnya 54 persen, juga berpendapat bahwa Trump tidak memancarkan citra seorang pemimpin yang kuat. Lebih lanjut, 67 persen responden menilai bahwa Trump cenderung tidak mempertimbangkan keputusan penting secara matang. Hal ini dianggap mencerminkan gaya kebijakan yang tidak stabil dan impulsif, terutama dalam penanganan isu terkait Iran.

Mengutip laporan dari laman presstv.ir pada Rabu, 6 Mei, survei lain yang dirilis belakangan ini juga menunjukkan tren peningkatan ketidaksetujuan warga AS terhadap Trump. Ketidakpuasan ini disebut-sebut dipicu oleh krisis keterjangkauan harga yang semakin memburuk akibat perang dengan Iran serta kebijakan tarif yang diberlakukan secara masif.

Seperti diketahui, blokade angkatan laut yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz telah berdampak pada terhentinya lalu lintas komersial. Kondisi ini berujung pada lonjakan harga energi, baik di Amerika Serikat maupun di negara-negara lain.

Meskipun pemerintah Trump kerap menyampaikan klaim yang optimistis, publik Amerika justru menunjukkan kecenderungan pesimistis. Dalam survei tersebut, 50 persen responden memperkirakan harga bahan bakar akan terus memburuk dalam setahun ke depan. Hanya 21 persen yang berharap akan ada perbaikan.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Sean Duffy sempat menyatakan dalam program “This Week” di ABC News bahwa harga bahan bakar akan segera turun setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Namun, pernyataan tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan selama blokade masih berlangsung.

Trump sendiri pada bulan lalu sempat mengutarakan keyakinannya bahwa harga akan turun secara signifikan menjelang pemilihan paruh waktu. Namun, berbagai kebijakan yang dinilai kurang terarah justru disebut-sebut semakin memperpanjang tekanan ekonomi bagi masyarakat Amerika.

Agresi yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh gencatan senjata yang rapuh bulan lalu, turut membuat kawasan tersebut tetap tegang dan pasar energi global menjadi tidak stabil. Meskipun serangan AS telah mereda dan Trump menyatakan perang telah berakhir di hadapan Kongres, dampak dari peristiwa tersebut masih terus terasa.

Baca juga: Perkuat Pengembangan Talenta untuk Keberlanjutan Usaha, Sampoerna & Philip Morris Berinovasi

Survei Washington Post-ABC News-Ipsos ini dilaksanakan secara daring pada periode 24 hingga 28 April. Sebanyak 2.560 orang dewasa di Amerika Serikat berpartisipasi dalam survei ini, dengan margin kesalahan sekitar 2,2 persen.