Menhub Buka Suara: Lockheed Martin & MRO Kertajati Terkait

oleh -4 Dilihat
Menhub Buka Suara: Lockheed Martin & MRO Kertajati Terkait

KabarDermayu.com – Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, memberikan tanggapan terkait potensi keterlibatan perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin, dalam pengembangan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat Hercules di Bandara Kertajati, Majalengka.

Menurut Menhub Budi Karya, kemungkinan tersebut sangat bergantung pada kesepakatan yang terjalin antara Kementerian Pertahanan dengan Lockheed Martin dalam proses pengadaan pesawat itu sendiri.

Ia menjelaskan bahwa dalam setiap pembelian pesawat militer, biasanya sudah termasuk perjanjian lanjutan yang mencakup aspek pemeliharaan dan dukungan operasional. Jika pabrikan pesawat, dalam hal ini Lockheed Martin, menyetujui, maka pembicaraan lebih lanjut mengenai pembangunan fasilitas MRO dapat dilanjutkan.

“Kalau dari Kementerian Pertahanan itu akan melakukan pengadaan Hercules, tentunya biasanya mereka akan bekerja sama termasuk di antaranya penyelenggaraan maintenance, dan kalau memang pabrikan menyetujui ya… mereka pasti sudah ada pembicaraan lebih lanjut,” ujar Budi Karya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 21 Mei 2026.

Lebih lanjut, Budi Karya menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup pintu hanya untuk Lockheed Martin. Ia membuka peluang bagi pihak lain untuk terlibat dalam pembangunan fasilitas MRO di kawasan Bandara Kertajati.

Menhub Budi Karya memastikan bahwa ketersediaan lahan di Bandara Kertajati masih sangat memadai untuk mendukung pengembangan industri perawatan pesawat tersebut.

“Oh ya, ya, sama seperti fasilitas yang lain mungkin ya untuk MRO. Lahannya cukup,” tegasnya.

Selain itu, Budi Karya menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan terkait rencana pengembangan fasilitas MRO Hercules maupun fasilitas pemeliharaan penerbangan lainnya di Kertajati.

“Tentunya kan pasti harus ada koordinasinya. Pasti kita akan berkoordinasi dengan Kemenhan untuk fasilitas MRO, apapun ya kita akan berkoordinasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memang memiliki rencana untuk menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai pusat MRO pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia.

Baca juga: Presiden Kolombia Bandingkan Menteri Keamanan Israel dengan Nazi

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, pernah menyampaikan bahwa dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, pihak AS menyatakan minatnya untuk membangun pusat pemeliharaan mesin pesawat Hercules.

“Saat ini, terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat MRO pesawat C-130/Hercules. Pemilihan Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang sudah memadai,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

Rencana ini merupakan bagian dari upaya Kemenhan untuk memperkuat kapabilitas perawatan alutsista udara nasional dan menjadikan Indonesia sebagai hub MRO di tingkat regional.

Bandara Kertajati dipilih karena lokasinya yang strategis, infrastruktur yang terus berkembang, serta ketersediaan lahan yang luas untuk ekspansi di masa depan. Pengembangan fasilitas MRO ini diharapkan tidak hanya mendukung operasional pesawat Hercules TNI AU, tetapi juga berpotensi melayani pesawat sejenis dari negara-negara lain di Asia.

Keterlibatan Lockheed Martin, sebagai produsen asli pesawat Hercules, tentu akan memberikan nilai tambah tersendiri, termasuk transfer teknologi dan peningkatan standar perawatan.

Namun, seperti yang ditekankan oleh Menhub Budi Karya, realisasi keterlibatan Lockheed Martin akan sangat bergantung pada bagaimana negosiasi dan kesepakatan dalam kerangka pengadaan pesawat itu sendiri berjalan.

Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kemandirian di sektor pertahanan, termasuk dalam hal perawatan alutsista. Pengembangan fasilitas MRO di Kertajati ini diharapkan menjadi langkah signifikan untuk mencapai tujuan tersebut.

Lebih jauh lagi, keberadaan fasilitas MRO internasional di Kertajati juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar bandara.

Koordinasi yang erat antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertahanan, dan pihak terkait lainnya menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan rencana ambisius ini.