Penjualan Rumah Kecil Menurun, Mulai Tak Diminati?

oleh -5 Dilihat
Penjualan Rumah Kecil Menurun, Mulai Tak Diminati?

KabarDermayu.com – Pasar properti residensial di Indonesia mengalami tren penurunan penjualan yang signifikan pada awal tahun 2026. Penurunan ini terutama terlihat pada segmen rumah tipe kecil, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pasar.

Data dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) triwulan I 2026 menunjukkan bahwa penjualan properti residensial secara keseluruhan mengalami kontraksi sebesar 25,67 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Angka ini berbanding terbalik dengan triwulan IV 2025, di mana pasar masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,83 persen.

Kontraksi penjualan yang paling dalam dialami oleh rumah tipe kecil. Laporan BI merinci bahwa pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil mengalami penurunan drastis hingga 45,59 persen (yoy). Angka ini sangat kontras dengan pertumbuhan positif sebesar 17,32 persen (yoy) yang tercatat pada periode sebelumnya.

Sementara itu, segmen rumah tipe menengah justru menunjukkan performa yang positif. Penjualannya tumbuh sebesar 8,28 persen secara tahunan, berbalik arah dari triwulan sebelumnya yang sempat terkontraksi 4,84 persen. Untuk rumah tipe besar, penjualannya masih mengalami kontraksi sebesar 8,03 persen, meskipun angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan kontraksi 10,95 persen pada periode sebelumnya.

Tidak hanya volume penjualan, pertumbuhan harga properti residensial juga mengalami perlambatan. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh sebesar 0,62 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 0,83 persen yang dicatat pada triwulan IV 2025.

Dalam laporannya, BI menyatakan bahwa pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer cenderung terbatas. Perlambatan pertumbuhan harga ini merata di semua tipe rumah.

Harga rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen secara tahunan, melambat dari 0,76 persen. Untuk rumah tipe menengah, pertumbuhan harganya adalah 0,88 persen, turun dari 1,12 persen sebelumnya. Sementara itu, rumah tipe besar mencatat pertumbuhan harga 0,50 persen, lebih rendah dari 0,72 persen pada periode sebelumnya.

Baca juga: Bandara Ben Gurion Jadi "Pangkalan Militer" AS Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Israel

Analisis berdasarkan wilayah menunjukkan adanya variasi. Dari 18 kota yang disurvei, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah. Tiga kota bahkan mencatat penurunan harga rumah secara tahunan.

Surabaya menjadi salah satu kota dengan pelemahan harga terdalam, di mana harga rumah terkontraksi sebesar 0,27 persen secara tahunan. Di sisi lain, beberapa kota masih menunjukkan tren kenaikan harga, seperti Padang dengan kenaikan 1,21 persen dan Balikpapan sebesar 1,44 persen secara tahunan.

BI juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang menjadi tantangan bagi sektor properti. Hambatan terbesar berasal dari kenaikan harga bahan bangunan yang mencapai 20,97 persen. Selain itu, masalah perizinan dan birokrasi juga menjadi kendala signifikan dengan angka 18,15 persen.

Suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga menjadi perhatian, meskipun tercatat stabil di level 7,42 persen pada triwulan I 2026. Angka ini masih berkontribusi pada kendala pembiayaan sebesar 16,47 persen.

Faktor lain yang masih menjadi kendala adalah tingginya uang muka KPR dan isu perpajakan. Meskipun demikian, stabilitas suku bunga KPR diharapkan dapat memberikan sedikit kelegaan bagi calon pembeli.

Dari sisi pembiayaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal, dengan porsi mencapai 80,66 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pengembang cenderung berhati-hati dalam mengelola arus kas mereka.

Sementara itu, di sisi konsumen, pembelian rumah melalui KPR masih menjadi metode pembiayaan yang dominan. Pangsa KPR dalam total transaksi rumah primer mencapai 69,87 persen, menandakan pentingnya akses pembiayaan perbankan bagi masyarakat.