KabarDermayu.com – Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa potensi pasar domestik Indonesia dapat menyaingi pasar Eropa, berkat melimpahnya sumber daya alam (SDA) dan bonus demografi yang dimiliki. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026.
Prabowo menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mencakup komoditas berharga seperti batu bara, nikel, tembaga, minyak kelapa sawit, logam tanah jarang, serta kekayaan laut yang melimpah.
Ia merinci kontribusi beberapa komoditas strategis terhadap devisa negara. Indonesia, sebagai pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia, berhasil mengumpulkan devisa ekspor sebesar US$23 miliar atau sekitar Rp 391 triliun pada tahun 2025.
Posisi sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia juga menyumbang devisa ekspor senilai US$30 miliar atau sekitar Rp 510 triliun di tahun yang sama. Selain itu, Indonesia juga memimpin sebagai pengekspor paduan besi atau ferro alloys terbesar di dunia, dengan devisa ekspor mencapai US$16 miliar atau setara Rp 272 triliun pada 2025.
Baca juga: Proyek Pangan Wanam: Tonggak Strategis Ketahanan Pangan Jangka Panjang
Secara total, ketiga komoditas strategis ini mampu menghasilkan devisa lebih dari US$65 miliar, atau setara dengan Rp 1.100 triliun per tahun. Angka ini menunjukkan potensi besar sumber daya alam Indonesia dalam menggerakkan perekonomian nasional.
Lebih lanjut, Prabowo menyoroti pentingnya bonus demografi yang menopang konsumsi domestik. Ia berpendapat bahwa pasar domestik Indonesia memiliki kapasitas yang sangat besar, bahkan bisa setara dengan pasar Eropa.
Namun, Prabowo juga mengajak untuk melakukan introspeksi terkait pengelolaan ekonomi nasional. Ia mengutip data IMF yang menunjukkan rasio belanja negara terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai yang terendah di antara negara-negara G20.
Rasio penerimaan negara terhadap PDB Indonesia berada di kisaran 11-12 persen, yang lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Meksiko, India, Filipina, bahkan Kamboja. Hal ini perlu menjadi perhatian serius agar pendapatan negara dapat setara dengan negara-negara lain di kawasan maupun negara berkembang lainnya.
“Kita harus introspeksi dan sadar dan berani bertanya, kenapa kita tidak bisa kelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara-negara seperti Filipina, Meksiko. Sekarang pun kita masih di bawah Malaysia,” tegas Prabowo, menekankan perlunya perbaikan dalam manajemen ekonomi negara.





