Presiden Federasi Palestina Tegas Tolak Salaman dengan Israel, Salahkan Gianni Infantino Soal Penderitaan

oleh -7 Dilihat
Presiden Federasi Palestina Tegas Tolak Salaman dengan Israel, Salahkan Gianni Infantino Soal Penderitaan

KabarDermayu.com – Presiden FIFA, Gianni Infantino, berupaya mengampanyekan perdamaian dengan mengundang delegasi Palestina dan Israel untuk berjabat tangan di atas panggung saat Kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, pada Kamis, 30 April 2026.

Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub. Ia secara tegas menolak berjabat tangan dengan wakil Israel, Basim Sheikh Suliman.

Insiden ini terjadi ketika Infantino mempersilakan kedua delegasi untuk naik ke podium dan mendorong mereka untuk saling berjabat tangan serta berfoto bersama. Meski begitu, Rajoub menolak undangan tersebut dan menyampaikan keberatannya secara langsung di hadapan seluruh peserta kongres. Ia kemudian hanya bersalaman dengan Infantino sebelum meninggalkan panggung.

Baca juga di sini: AS akan Hentikan Operasi di Gaza, Diganti Pasukan Internasional untuk Stabilitas

Pasca kejadian tersebut, Rajoub memberikan penjelasan mengenai alasan penolakannya. Ia berpendapat bahwa ajakan berjabat tangan tersebut tidak mencerminkan kondisi penderitaan yang tengah dialami oleh rakyat Palestina.

“Saya pikir Gianni punya hak untuk mencoba menjembatani. Dia punya hak untuk mencoba menyatukan orang,” ujar Rajoub, seperti dikutip dari YouTube TRT World.

“Tetapi dia tidak tahu penderitaan mendalam orang-orang Palestina dan olahraga Palestina. Ini Israel. Bagaimana bisa saya berjabat tangan atau berfoto dengan orang seperti itu?” tambahnya.

Kongres FIFA ke-76 sendiri dihadiri oleh 211 anggota federasi sepak bola dunia dan menjadi forum penting menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Selain insiden tersebut, kongres juga diwarnai oleh isu-isu lain, termasuk absennya delegasi Iran yang dilaporkan mengalami kendala masuk ke Kanada terkait persoalan imigrasi.

Ketegangan antara Palestina dan Israel memang telah lama merambah ke ranah sepak bola internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, otoritas sepak bola Palestina juga telah mendorong FIFA untuk mengambil langkah yang lebih tegas terhadap Israel terkait berbagai isu yang dinilai merugikan.

Di sisi lain, upaya FIFA untuk menjadikan sepak bola sebagai alat diplomasi kembali menghadapi tantangan. Insiden di Vancouver ini menunjukkan bahwa konflik politik yang kompleks masih sulit untuk dipisahkan dari panggung olahraga global.