Saham Teknologi Rontok Triliunan Dolar Usai Data Tenaga Kerja AS Meledak

oleh -3 Dilihat
Saham Teknologi Rontok Triliunan Dolar Usai Data Tenaga Kerja AS Meledak

KabarDermayu.com – Wall Street mengakhiri reli panjangnya dengan pelemahan tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan. Aksi jual besar-besaran melanda saham-saham teknologi dan semikonduktor, dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.

Mengutip Reuters pada Jumat, 5 Juni 2026, ketiga indeks utama di Bursa Amerika Serikat ditutup di zona merah. Kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menjadi pemicu utama pelemahan ini, seiring dengan ketahanan ekonomi AS yang terus ditunjukkan.

Indeks Nasdaq, yang didominasi oleh saham-saham teknologi, menjadi yang paling terpukul. Indeks S&P 500 pun turut mengakhiri tren kenaikan mingguan terpanjangnya sejak Desember 2023.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Pemicu Utama

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa perekonomian negara itu berhasil menciptakan 172.000 lapangan kerja baru sepanjang Mei 2026. Angka ini lebih dari dua kali lipat ekspektasi para analis.

Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan tetap stabil di angka 4,3 persen. Data ini menunjukkan kondisi ekonomi AS yang masih kuat, namun di sisi lain mengurangi harapan investor mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group, menjelaskan bahwa pasar merespons negatif lantaran peluang pemotongan suku bunga kini semakin kecil. Ia menambahkan bahwa pasar terkoreksi setelah reli besar selama sembilan minggu terakhir, terutama pada saham teknologi dan semikonduktor.

“Laporan ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan membuat The Fed berada dalam posisi sulit untuk memangkas suku bunga tahun ini,” ujar Detrick.

Saham Teknologi dan Chip Jadi Korban Terbesar

Aksi jual terkonsentrasi pada saham-saham teknologi yang selama beberapa bulan terakhir menjadi motor penggerak kenaikan Wall Street. Eric Lynch, Direktur Pelaksana dan Manajer Portofolio Suncoast Equity Management, menyebutkan pelemahan pasar terjadi akibat kombinasi beberapa faktor.

Menurut Lynch, laporan tenaga kerja yang sangat kuat membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada 2026 semakin mengecil. Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap saham-saham pertumbuhan yang sangat bergantung pada ekspektasi suku bunga yang lebih rendah.

Selain itu, muncul kekhawatiran investor mengenai sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Terdapat pertanyaan mengenai seberapa besar penggunaan teknologi tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Apa yang terjadi hari ini merupakan kebalikan dari tren yang kita lihat selama setahun terakhir,” kata Lynch.

Indeks Philadelphia Semiconductor, yang menjadi acuan sektor chip, mengalami penurunan harian terbesar sejak Maret 2020. Nilai kapitalisasi pasar yang hilang dari sektor ini diperkirakan melampaui US$1 triliun.

Sejumlah saham teknologi besar turut terseret dalam gelombang aksi jual ini. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Nvidia turun 6,2 persen
  • Intel melemah signifikan
  • Micron merosot tajam
  • AMD terkoreksi dalam
  • Broadcom anjlok dua digit
  • Marvell Technology ikut tertekan

Secara sektoral, sektor teknologi dalam indeks S&P 500 jatuh sekitar 5,8 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari itu.

Ketegangan Timur Tengah Tambah Tekanan Pasar

Selain faktor suku bunga, sentimen investor juga dibebani oleh meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Pasar mencermati perkembangan konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan kelompok Hezbollah.

Investor khawatir ketegangan tersebut dapat mengganggu lalu lintas energi global, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga energi juga memicu risiko inflasi yang lebih tinggi, sehingga semakin memperkecil ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Meskipun demikian, sejumlah analis menilai pelemahan kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal dibandingkan perubahan fundamental ekonomi. Ohsung Kwon, Chief Equity Strategist Wells Fargo, berpendapat bahwa sektor semikonduktor sebelumnya telah mengalami kenaikan yang terlalu cepat sehingga rentan terhadap aksi ambil untung.

“Pasar hari ini lebih dipengaruhi oleh posisi investor daripada faktor fundamental. Saya tidak melihat ini sebagai akhir dari tren bullish sektor semikonduktor,” ujarnya.

Indeks Utama Wall Street Ditutup Merah

Berdasarkan data penutupan perdagangan, seluruh indeks utama Wall Street berakhir di zona negatif. Berikut adalah pergerakan indeks utama:

  • Dow Jones Industrial Average turun 695,15 poin atau 1,35 persen menjadi 50.866,78
  • S&P 500 melemah 200,57 poin atau 2,64 persen menjadi 7.383,74
  • Nasdaq Composite anjlok 1.121,53 poin atau 4,18 persen menjadi 25.709,43

Volume transaksi di bursa AS juga meningkat menjadi 22,89 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di kisaran 20,29 miliar saham. Data ini menunjukkan tingginya aktivitas jual investor saat pasar bereaksi terhadap kombinasi laporan tenaga kerja yang kuat, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.