Trump Panggil Kabinet Saat Negosiasi Iran, Ada Apa?

oleh -5 Dilihat
Trump Panggil Kabinet Saat Negosiasi Iran, Ada Apa?

KabarDermayu.com – Presiden Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan dengan para anggota kabinetnya pada Rabu waktu setempat. Pertemuan ini berlangsung di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian terkait upaya mengakhiri konflik dengan Iran.

Pertemuan ini menjadi sorotan publik karena digelar hanya beberapa hari setelah Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran sebagian besar telah merundingkan sebuah penyelesaian. Padahal, negosiasi tersebut hingga kini masih berjalan alot.

Melansir dari laman AP News pada Kamis, 28 Mei 2026, menjelang pertemuan dengan para anggota kabinetnya, Trump menunjukkan keyakinan bahwa kesepakatan dengan Iran semakin dekat. Ia berharap kesepakatan tersebut dapat membuka Selat Hormuz.

Selain itu, Trump berharap kesepakatan ini akan memberinya alasan kuat untuk menyatakan bahwa kemampuan nuklir Iran telah cukup dilemahkan. Hal ini akan memungkinkannya untuk mengklaim kemenangan sekaligus mengakhiri konflik yang dianggap tidak populer di kalangan Partai Republik.

Namun, situasi saat ini juga berpotensi membuat Trump menghadapi akhir perang yang tidak sepenuhnya memuaskan. Kesepakatan yang mulai terbentuk disebut masih menunda banyak persoalan penting untuk dibahas di kemudian hari.

Kondisi ini memicu kritik keras terhadap presiden dari Partai Republik, termasuk dari sebagian pendukungnya sendiri. Mereka khawatir para pemimpin garis keras Iran justru akan keluar dari konflik dalam kondisi terluka tetapi semakin berani.

Situasi ini memanas di tengah persiapan menuju pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang akan menentukan kendali Kongres. Partai Republik juga mulai cemas karena kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar dinilai semakin memengaruhi suasana hati para pemilih Amerika.

Perundingan semakin rumit setelah militer AS pada Senin melancarkan serangan yang disebut Pentagon sebagai aksi ‘defensif’ terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran. Amerika Serikat sendiri menyatakan tindakan itu dilakukan dengan menahan diri di tengah gencatan senjata yang sudah berlangsung beberapa pekan.

Sementara itu, Iran mengecam serangan tersebut sebagai bukti itikad buruk dan ketidakdapatdipercayaan dari AS. Sementara itu pada Selasa waktu setempat, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata kemungkinan masih membutuhkan beberapa hari lagi.

Pemerintah AS berharap masa gencatan senjata itu bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan rincian akhir kesepakatan nuklir. “Dia akan membuat kesepakatan yang baik atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” kata Rubio kepada wartawan.

Trump juga meluapkan kekesalannya lewat media sosial pada Selasa. Ia mengeluh bahwa bahkan jika Teheran menyerah sepenuhnya, media tetap akan menggambarkan akhir konflik itu sebagai kemenangan besar dan brilian bagi Iran.

Meskipun Trump terus menyatakan kesepakatan sudah dekat, masih terdapat perbedaan besar antara AS dan Iran dalam sejumlah isu penting. Ia juga mendapat sorotan dari sekutu-sekutunya di Partai Republik, termasuk Senator Roger Wicker, Lindsey Graham, dan Ted Cruz.

Mereka menilai isi kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Iran. Para senator tersebut menyoroti beberapa poin dalam kesepakatan yang sudah mulai terungkap ke publik karena dianggap terlalu mirip dengan perjanjian nuklir Iran era Presiden Demokrat Barack Obama, yang sebelumnya dibatalkan Trump saat masa jabatan pertamanya.

Dalam rancangan kesepakatan tersebut, Teheran disebut akan menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi. Hal ini merupakan salah satu tuntutan utama Trump sebagai imbalan pencabutan sanksi. Informasi ini disampaikan oleh dua pejabat regional dan satu pejabat senior pemerintahan Trump yang berbicara dengan syarat anonim karena negosiasi masih sangat sensitif.

Salah satu pejabat yang mengetahui langsung jalannya perundingan mengatakan mekanisme penyerahan uranium Iran masih akan dibahas lebih lanjut dalam periode 60 hari ke depan. Sebagian uranium kemungkinan akan diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga.

Berdasarkan data Badan Energi Atom Internasional, Iran saat ini memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Tingkat ini hanya selangkah secara teknis menuju tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Hingga kini Iran belum secara terbuka menyatakan kesediaannya menyerahkan uranium tersebut.

Trump pada Senin menulis di platform Truth Social bahwa uranium itu, yang diyakini tersimpan di bawah fasilitas nuklir Iran yang rusak akibat serangan udara AS tahun lalu, akan diserahkan kepada Amerika Serikat atau dimusnahkan di lokasi maupun di tempat lain yang disepakati. Proses tersebut akan disaksikan oleh Komisi Energi Atom atau lembaga setara.

Baca juga: Persija vs Persib: Adu Sikut Bursa Transfer 2026/2027, Maxwell Souza & Peralta?

Pernyataan tersebut dinilai menunjukkan pelunakan sikap Trump dibanding sebelumnya, ketika ia bersikeras Amerika Serikat harus mengambil alih penuh persediaan uranium Iran.