KabarDermayu.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan bahwa solusi persoalan perkotaan di Jakarta di masa depan sangat bergantung pada penguatan tata kelola kawasan aglomerasi. Ia berpendapat bahwa isu-isu krusial seperti banjir, kemacetan, dan pengelolaan sampah memerlukan pendekatan lintas wilayah yang terintegrasi, serta didukung oleh kewenangan bersama yang jelas.
Menurut Bima Arya, semakin besar sebuah kawasan metropolitan, semakin besar pula kebutuhan akan otoritas yang jelas. Oleh karena itu, masa depan Jakarta tidak dapat dipisahkan dari konteks aglomerasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bima Arya dalam acara Urban Talks Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa Jakarta telah berkembang menjadi salah satu kawasan megapolitan terbesar di dunia.
Dalam konteks aglomerasi, yang mencakup wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat jumlah penduduk kawasan ini mencapai 41,9 juta jiwa. Angka ini bahkan melampaui populasi kawasan metropolitan Tokyo maupun Dhaka.
Kawasan Jakarta dan sekitarnya memiliki peran yang sangat strategis, berkontribusi sebesar 16,71 persen terhadap perekonomian nasional. Namun, Bima Arya menyoroti bahwa berbagai persoalan perkotaan seringkali sulit diatasi karena masih adanya fragmentasi kewenangan antarwilayah.
Fragmentasi ini menimbulkan perbedaan prioritas pembangunan, agenda politik, serta anggaran yang berbeda antar daerah, sehingga menghambat penyelesaian masalah secara komprehensif.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah sedang mendorong penguatan peran Dewan Kawasan Aglomerasi. Lembaga ini diharapkan menjadi wadah koordinasi lintas daerah untuk mengelola berbagai layanan publik yang bersifat regional secara lebih terpadu dan efektif.
Bima Arya menjelaskan bahwa Dewan Aglomerasi nantinya dapat fokus pada isu-isu spesifik. Akan ada badan yang menangani soal sampah, badan yang mengurus transportasi, air minum, dan lain sebagainya.
Selain itu, Bima Arya juga mengapresiasi berbagai bentuk kolaborasi yang telah berkembang di Jakarta. Ia menilai upaya membangun identitas kota yang inklusif melalui kegiatan olahraga dan pariwisata berskala internasional menjadi modal penting.
Upaya-upaya tersebut, menurutnya, memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global. Ia menambahkan bahwa dua jenis kegiatan ini menggambarkan Jakarta berada di jalur yang tepat untuk menjadi kota modern dalam menyambut usia setengah mileniumnya.





