Warga Wanam Tegaskan Tak Ada Pengungsi, Malah Harapkan Pembangunan PSN

oleh -3 Dilihat
Warga Wanam Tegaskan Tak Ada Pengungsi, Malah Harapkan Pembangunan PSN

KabarDermayu.com – Narasi mengenai adanya pengungsian besar-besaran warga di Wanam, Papua Selatan, akibat Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate dibantah tegas oleh masyarakat setempat. Sutradara film dokumenter “Pesta Babi”, Dandhy Dwi Laksono, sebelumnya menuding adanya eksodus ratusan ribu warga yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Masyarakat Wanam menegaskan bahwa tidak pernah terjadi pengungsian massal. Sebaliknya, mereka justru berharap pembangunan PSN food estate di Wanam dapat terus berlanjut dan membawa dampak positif bagi kehidupan mereka.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa klaim-klaim negatif yang beredar tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Pembukaan lahan yang sedang berjalan saat ini masih terbatas, mencakup sekitar 15 ribu hektare. Fokus utama dari pembukaan lahan ini adalah untuk pembangunan infrastruktur vital.

Infrastruktur yang dibangun meliputi jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, kilang minyak, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage. Pembangunan ini diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi dan logistik di wilayah tersebut.

Luas kawasan PSN Wanam pun tidak sebesar yang digambarkan dalam narasi negatif. Informasi yang menyebutkan angka fantastis hingga 2,5 juta hektare dinilai tidak akurat. Perkiraan total luas kawasan PSN Wanam sendiri adalah sekitar 1 juta hektare.

Lebih lanjut, isu eksodus warga yang diklaim mencapai 170 ribu orang juga tidak ditemukan buktinya di lapangan. Warga yang ditemui secara langsung memberikan kesaksian bahwa tidak ada perpindahan penduduk secara besar-besaran seperti yang dituduhkan.

Mengenai alat berat, meskipun sempat beredar kabar adanya pesanan hingga 2.000 unit ekskavator, realisasi di lapangan saat ini baru mencapai ratusan unit. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara klaim dan fakta yang ada.

Di tengah berbagai isu negatif yang beredar, suara masyarakat lokal justru menunjukkan optimisme dan harapan terhadap pembangunan PSN. Inosensio Sigipse, seorang petani yang telah menetap di Wanam selama 10 tahun, menyatakan dukungannya terhadap proyek tersebut.

Ia berharap pembangunan dapat mempermudah aksesibilitas dan meningkatkan perekonomian warga, terutama dalam hal distribusi hasil pertanian. “Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan. Supaya kita jual hasil tani lebih gampang,” ujar Papa Ino, sapaan akrabnya.

Papa Ino menggambarkan kondisi ekonomi warga yang masih menghadapi tantangan. Hasil pertanian tidak selalu terserap pasar dengan baik. Kehadiran proyek PSN diharapkan dapat membuka peluang kerja baru bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Kalau ada pekerjaan di sana, kita yang nganggur bisa kerja juga,” tambahnya, menunjukkan harapan akan terbukanya lapangan kerja.

Pendapat serupa disampaikan oleh Kleopas Mause, seorang guru sekaligus Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) di Wanam. Ia menegaskan bahwa masyarakat sejak awal menerima kehadiran PSN karena dinilai membawa perubahan positif, meskipun dampaknya belum sepenuhnya merata.

“Sekarang masyarakat sudah mulai terlibat kerja. Memang belum 100 persen, tapi sudah ada perubahan,” ungkapnya, mengakui adanya perkembangan positif.

Kleopas juga menyoroti kebutuhan mendesak masyarakat akan infrastruktur dasar yang memadai. Akses jalan yang layak masih menjadi impian banyak warga untuk mempermudah aktivitas sehari-hari.

“Masyarakat masih jalan kaki bawa hasil ke perusahaan. Harapannya ada jalan yang layak sampai kampung, supaya hidup bisa lebih baik,” ujarnya, menggarisbawahi pentingnya infrastruktur jalan.

Sementara itu, Laurentius Gali Blagaise, seorang tokoh dusun setempat, menilai pembangunan memberikan dampak positif yang signifikan, meskipun di awal sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

“Kalau saya lihat perubahan ini sudah bagus sekali. Masyarakat lokal juga sudah ada yang ikut kerja,” ungkap Papa Lau, mengapresiasi perkembangan yang ada.

Ia mengakui masih ada sebagian warga yang belum terserap dalam tenaga kerja proyek. Namun, peluang ke depan dinilai tetap terbuka lebar bagi mereka yang ingin bekerja.

“Masih banyak anak muda yang mau kerja. Harapannya bisa mengurangi pengangguran,” tambahnya, optimis terhadap potensi penyerapan tenaga kerja.

Menurut Laurentius, pembangunan di Wanam diharapkan dapat mendorong kemajuan daerah agar tidak tertinggal dari wilayah lain. Ia memiliki harapan besar agar Wanam dapat berkembang menjadi lebih baik seiring waktu.

“Kita mau Wanam bisa maju ke depan, sedikit demi sedikit lebih baik,” tuturnya, mengungkapkan visi pembangunan jangka panjang.

Dari berbagai keterangan yang dihimpun, terlihat jelas bahwa kondisi di Wanam jauh dari narasi eksodus atau krisis kemanusiaan seperti yang dituduhkan. Sebaliknya, masyarakat setempat justru menaruh harapan besar pada pembangunan PSN.

Harapan tersebut terutama tertuju pada peningkatan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan perputaran ekonomi lokal yang lebih dinamis. Pembangunan ini diharapkan menjadi katalisator perubahan positif bagi kesejahteraan masyarakat Wanam.

Sebelumnya, narasi negatif yang dilontarkan oleh sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, menyebutkan luas lahan PSN food estate Wanam mencapai 2,5 juta hektare dan adanya ratusan ribu warga yang mengungsi akibat pembangunan tersebut.

Faktanya, pembukaan lahan baru mencapai 15 ribu hektare yang difokuskan untuk pembangunan infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, kilang minyak, dan cold storage. Luas lahan PSN Wanam sendiri adalah 1 juta hektare, bukan 2,5 juta hektare.

Selain itu, tuduhan mengenai eksodus 170 ribu pengungsi tidak terbukti. Pesanan ekskavator sebanyak 2.000 unit juga tidak sesuai dengan realisasi di lapangan yang baru mencapai ratusan unit.