KabarDermayu.com – Musim penghujan yang melanda Jalur Gaza membawa dampak kemanusiaan yang mendalam bagi ribuan pengungsi. Badai disertai angin kencang yang terjadi sejak Jumat malam (6/11/2026) telah menyebabkan sekitar 70.000 tenda pengungsian terendam banjir, memicu krisis tempat berlindung bagi ribuan keluarga yang sebelumnya telah kehilangan hunian akibat konflik berkepanjangan.
Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa bencana ini tidak hanya merusak tenda, tetapi juga mengakibatkan keruntuhan puluhan dinding bangunan yang sebelumnya telah melemah akibat serangan. Kerugian material akibat badai tersebut diperkirakan mencapai 3 juta dolar AS. Selain kerusakan infrastruktur, insiden ini juga menimbulkan korban luka; sumber medis mengonfirmasi setidaknya lima orang terluka akibat reruntuhan dinding serta serpihan pelat logam yang beterbangan saat badai berlangsung.
Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan curah hujan yang mencapai 60 milimeter hanya dalam kurun waktu 12 jam. Angka tersebut setara dengan 15 persen dari total curah hujan tahunan di wilayah Gaza City. Hosni Muhanna, Juru bicara Pemerintah Gaza City, menjelaskan bahwa sistem drainase saat ini hanya berfungsi sekitar 20 persen akibat hancurnya infrastruktur selama perang. Hal ini menjadikan kawasan dataran rendah sebagai area yang paling rentan terhadap genangan air.
“Saat ini terdapat sekitar satu juta warga dan pengungsi yang berdesakan di wilayah yang hanya mencakup 30 persen dari luas Gaza City. Infrastruktur yang tersisa tidak lagi mampu menampung beban tersebut, terutama saat cuaca ekstrem melanda,” ujar Muhanna sebagaimana dilansir dari Antara, Minggu (8/11/2026).
Pemerintah kota sejauh ini telah menerima 250 laporan terkait jalanan yang terendam banjir, erosi tanah, dan tersumbatnya sistem drainase. Upaya penanganan darurat pun dilakukan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Muhanna menekankan pentingnya pembukaan pintu perlintasan agar bantuan kemanusiaan, peralatan berat, serta kebutuhan musim dingin dapat segera didistribusikan kepada warga yang terdampak.
Di sisi lain, Badan Pertahanan Sipil Gaza melalui Abdullah al-Majdalawi menyatakan bahwa tim penyelamat menghadapi kendala besar. Meskipun mereka dapat menanggapi ancaman keselamatan jiwa, mereka tidak memiliki kapasitas untuk menyediakan tempat berlindung baru bagi warga yang tendanya rusak atau hancur.
Kondisi kemanusiaan di wilayah ini memang berada dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Data Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) per Juni lalu menunjukkan bahwa 1,98 juta orang, atau sekitar 94 persen populasi Gaza, sangat membutuhkan hunian yang layak. Lebih dari setengah dari jumlah tersebut berada dalam kategori kebutuhan tempat tinggal yang bersifat kritis atau katastrofik.
Laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Oktober lalu juga telah memberikan peringatan dini bahwa sekitar 950.000 warga Palestina tinggal di lokasi yang memiliki risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi. Dengan adanya badai terbaru ini, kekhawatiran mengenai keselamatan pengungsi di tengah musim dingin menjadi semakin nyata, terutama mengingat pembatasan akses masuk untuk bahan bangunan yang diperlukan bagi perbaikan hunian sementara.






