DME Diperkirakan Gantikan LPG, Pengamat Beri Catatan Penting

oleh -8 Dilihat
DME Diperkirakan Gantikan LPG, Pengamat Beri Catatan Penting

KabarDermayu.com – Pengembangan Dimethyl Ether (DME) yang berasal dari batubara di Indonesia tengah menjadi sorotan publik. Sejumlah pengamat menilai proyek ini berpotensi menambah beban emisi nasional jika tidak didukung oleh teknologi tambahan yang memadai.

Isu ini mencuat di tengah upaya pemerintah untuk mendorong kemandirian energi sekaligus memenuhi target penurunan emisi menuju Net Zero Emission (NZE). Pemerintah sendiri mengembangkan DME sebagai bagian dari hilirisasi batubara.

Proyek ini mengandalkan teknologi clean coal yang diklaim mampu menekan emisi hingga 30-40 persen jika dibandingkan dengan pembakaran langsung. Kebijakan ini diposisikan sebagai langkah strategis agar pemanfaatan sumber daya domestik tetap berjalan seiring agenda transisi energi yang sedang digalakkan.

Namun, pandangan berbeda datang dari pengamat energi Universitas Indonesia, Iwa Garniwa. Ia menilai bahwa pendekatan yang ada saat ini belum cukup untuk menekan emisi secara signifikan. Iwa menekankan pentingnya penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) agar pengembangan DME benar-benar sejalan dengan komitmen penurunan emisi nasional.

“Tanpa CCUS, emisi siklus hidup DME batubara 20 persen lebih tinggi dari LPG. Ini bertentangan dengan komitmen NDC (Nationally Determined Contribution),” tegas Iwa dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 6 Mei 2026.

Teknologi CCUS sendiri berfungsi untuk menangkap emisi karbon dioksida (CO2) dari berbagai aktivitas industri. Nantinya, CO2 tersebut dapat dimanfaatkan kembali atau disimpan secara permanen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Baca juga: Mayoritas Warga AS Anggap Trump Tak Mampu Pimpin Negara

Meskipun demikian, Iwa menambahkan bahwa penerapan CCUS ternyata tidaklah sederhana. Teknologi ini berpotensi berdampak pada peningkatan biaya produksi secara keseluruhan. Ia memperkirakan, penggunaan CCUS dapat menaikkan capital expenditure (capex) sekitar 20 persen dan operational expenditure (opex) sebesar 15 persen.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi proyek DME di lapangan. Di sisi lain, Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia, Tata Mustasya, menyampaikan pandangan yang lebih kritis. Ia menilai, bahkan dengan intervensi teknologi sekalipun, DME tetap berpotensi menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan LPG.

Perbandingan emisi ini berlaku baik dari sisi produksi maupun penggunaan. Menurut Tata, penggunaan DME tidak serta-merta menggantikan konsumsi batubara di sektor pembangkit listrik. Hal ini membuat total emisi berpotensi meningkat dari dua sisi sekaligus, yaitu produksi energi dan konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, pengamat energi migas, Hadi Ismoyo, memberikan penekanan pada pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam menghitung emisi. Ia menyarankan metode “well-to-wheel” yang dapat memperhitungkan seluruh proses, mulai dari produksi hingga penggunaan akhir.

Menurut Hadi, proses konversi batubara menjadi syngas dalam produksi DME justru menghasilkan emisi dalam jumlah yang besar. Hal ini membuat total emisi tetap tinggi, meskipun dari sisi pembakaran akhir terlihat setara dengan LPG atau bahan bakar lainnya.