Wayan Ubah Sampah Kayu Pantai Jadi Kerajinan Berharga Ekspor

oleh -5 Dilihat
Wayan Ubah Sampah Kayu Pantai Jadi Kerajinan Berharga Ekspor

KabarDermayu.com – Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir pantai, khususnya di kawasan Tabanan, Bali, seringkali menjadi masalah sampah lingkungan. Namun, bagi Wayan Sudira, limbah kayu laut ini justru dilihat sebagai peluang untuk menciptakan karya seni yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Melalui Ulu Sari Handicraft, Wayan mengubah kayu-kayu bekas tersebut menjadi produk kerajinan yang tidak hanya bernilai jual, tetapi juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Secara spesifik, usahanya mendukung poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 14 mengenai pelestarian ekosistem laut.

Sejak bergabung dengan PNM ULaMM pada tahun 2017, Wayan mendapatkan dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha yang berkelanjutan. Bantuan ini menjadi katalisator bagi Ulu Sari Handicraft untuk tumbuh dan berkembang secara lebih terarah.

Kini, usaha yang dirintisnya telah memiliki dua workshop yang berlokasi strategis di Singaraja dan Tegallalang. Pada saat itu, ia mempekerjakan sebanyak 45 karyawan.

Menariknya, banyak dari karyawan tersebut adalah kerabat, masyarakat sekitar, bahkan mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja akibat pandemi COVID-19. Dari permasalahan lingkungan yang awalnya tampak sulit diatasi, kini telah tercipta lapangan kerja baru yang menopang kehidupan banyak keluarga.

Di tengah situasi pandemi yang melemahkan banyak usaha mikro dan kecil, Ulu Sari Handicraft justru mengalami lonjakan permintaan dari pasar internasional. Karya-karya Wayan secara rutin dikirim ke berbagai negara, termasuk Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.

Bagi Wayan, pencapaian ini bukan sekadar kesuksesan bisnis semata, melainkan sebuah bentuk rasa syukur. Ia merasa bahagia dapat mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber manfaat, baik bagi lingkungan maupun sesama manusia.

“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar. Jadi yang bisa kami lakukan adalah terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” ungkap Wayan.

Kisah Wayan Sudira ini menjadi bukti nyata bagaimana pembiayaan dan pendampingan dari PNM dapat memperluas dampak positif usaha mikro dan kecil. Dampak tersebut tidak hanya terasa pada aspek ekonomi, tetapi juga merambah ke ranah sosial dan lingkungan.

Ulu Sari Handicraft menginspirasi bahwa pemberdayaan dapat tumbuh subur dari kepekaan terhadap persoalan yang ada di sekitar kita. Limbah pantai yang sebelumnya menjadi tantangan, kini berhasil diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Hal ini tidak hanya membuka lapangan kerja bagi masyarakat, tetapi juga turut membantu pertumbuhan ekonomi keluarga-keluarga di sekitarnya. Semangat kewirausahaan yang berlandaskan kepedulian inilah yang membuat pemberdayaan menjadi lebih bermakna.

Baca juga: 4 Pengeluaran yang Bikin Keuangan 'Bocor Halus

Sebab, ketika sebuah usaha berhasil berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemiliknya. Melainkan juga oleh keluarga, tetangga, lingkungan sekitar, dan bahkan membawa harapan baru bagi banyak orang.