Menhan Ungkap Awal RI Masuk Board of Peace Trump, Kini Tertinggal

oleh -8 Dilihat
Menhan Ungkap Awal RI Masuk Board of Peace Trump, Kini Tertinggal

KabarDermayu.com – Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, memaparkan kronologi awal keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.

BoP merupakan sebuah inisiatif yang dirancang Trump dengan tujuan utama memberikan bantuan kepada Palestina. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap tingginya angka korban jiwa di wilayah tersebut, yang diperkirakan mencapai sekitar 80.000 orang.

Sjafrie menyampaikan hal ini dalam sebuah rapat yang berlangsung bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 19 Mei 2026.

Beliau menjelaskan bahwa Board of Peace adalah gagasan dari Presiden Amerika Serikat untuk membantu Palestina di Gaza. Mengingat situasi kemanusiaan yang memprihatinkan, dengan jumlah korban yang diperkirakan sudah mencapai hampir 80.000 jiwa di Gaza.

Baca juga: IHSG Anjlok 3,08%: OJK, DPR, Danantara Geruduk BEI

Menurut Sjafrie, inisiatif ini merupakan upaya dari Presiden Amerika Serikat untuk melakukan penyelamatan kemanusiaan sekaligus mengatasi persoalan politik di Gaza.

Donald Trump memberikan apresiasi khusus kepada Presiden RI, Prabowo Subianto. Apresiasi ini didasarkan pada kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan di Gaza.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Trump memutuskan untuk memasukkan Indonesia ke dalam keanggotaan Board of Peace. Indonesia bergabung bersama dengan beberapa negara Arab lainnya.

Sjafrie menekankan bahwa Indonesia menyetujui keikutsertaan ini dengan beberapa syarat. Syarat tersebut mencakup penjagaan eksistensi Hamas dan pencegahan tindakan kekerasan fisik yang dapat menimbulkan korban di kalangan masyarakat Gaza. Catatan penting ini juga telah disetujui oleh negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi.

Selain Board of Peace, Trump juga membentuk International Stabilization Force (ISF). Indonesia juga turut serta dalam pembentukan pasukan internasional ini.

Namun, Sjafrie mengungkapkan bahwa saat ini Board of Peace dan ISF telah menjadi ‘tertinggal’ atau left behind. Hal ini disebabkan oleh eskalasi konflik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Beliau memaparkan bahwa dinamika konflik yang sedang terjadi, terutama intensitas konflik antara Amerika Serikat dan Israel yang sangat tinggi, membuat BoP cenderung tertinggal. Implikasinya, ISF pun ikut mengalami hal yang sama.

Meskipun demikian, Sjafrie menambahkan bahwa Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, telah mempersiapkan brigade-brigade komposit. Pasukan ini siap bergerak sambil menunggu adanya arahan lebih lanjut.

Belum ada arahan implementasi yang konkret dari inisiatif Presiden Amerika Serikat tersebut. Oleh karena itu, hingga saat ini, pasukan ISF yang disiapkan oleh Indonesia masih dalam status siaga. Belum ada tindakan operasional yang dilakukan, namun di dalam negeri, Panglima TNI telah melakukan berbagai persiapan.