KabarDermayu.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus RT dan RW hingga kader dasawisma, dalam upaya menekan angka kawasan kumuh di ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyatakan pentingnya pemberdayaan seluruh komponen tersebut. Ia meminta agar Jumantik, Dawis, PKK, serta pengurus RT dan RW dapat dilibatkan secara aktif dalam menangani area-area yang masih teridentifikasi sebagai RW kumuh.
Lebih lanjut, Pramono menjelaskan bahwa para pengurus RT dan RW serta kader dasawisma nantinya akan bekerja sama dan berkoordinasi langsung dengan para kepala daerah, termasuk wali kota dan bupati di wilayah masing-masing.
Pramono mengungkapkan harapannya agar jumlah RW yang dikategorikan kumuh di Jakarta dapat terus berkurang seiring berjalannya waktu.
Sebelumnya, Gubernur Pramono telah menyampaikan adanya penurunan jumlah Rukun Warga (RW) yang masuk dalam kategori kumuh di wilayah Jakarta.
Berdasarkan data terbaru hasil pendataan yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat ada penurunan jumlah RW kumuh di Jakarta. Angka tersebut kini menjadi 211 RW, menurun dari 445 RW yang tercatat pada tahun 2017.
Menindaklanjuti temuan ini, Pramono menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap hasil pendataan tersebut. Tujuannya adalah untuk merumuskan langkah-langkah perbaikan yang lebih efektif demi meningkatkan kualitas kehidupan warga Jakarta.
Perlu diketahui, penentuan status kumuh pada tingkat RT, yang kemudian diagregasi di tingkat RW, didasarkan pada 11 kriteria spesifik. Kriteria tersebut mencakup kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kualitas konstruksi bangunan tempat tinggal, serta kondisi ventilasi dan pencahayaan di dalam bangunan.
Baca juga: Luka Modric Piala Dunia 2026: Sejarah Baru Sejajar Messi & Ronaldo
Selain itu, kriteria lain yang dinilai adalah ketersediaan dan kondisi tempat buang air besar, cara masyarakat membuang sampah, serta frekuensi pengangkutan sampah. Keadaan saluran air, kondisi jalan lingkungan, ketersediaan penerangan jalan umum, dan tata letak bangunan juga menjadi faktor penentu.





