Presiden Kolombia Bandingkan Menteri Keamanan Israel dengan Nazi

oleh -8 Dilihat
Presiden Kolombia Bandingkan Menteri Keamanan Israel dengan Nazi

KabarDermayu.com – Presiden Kolombia, Gustavo Petro, melontarkan kecaman keras terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Kecaman ini dipicu oleh unggahan video Ben-Gvir yang dianggapnya mengejek aktivis Global Sumud Flotilla.

Petro secara terang-terangan menyebut tindakan Ben-Gvir setara dengan perbuatan Nazi. “Menteri Ben-Gvir bertindak seperti Nazi sejati,” ujar Petro melalui akun X miliknya, Rabu lalu. Ia menambahkan bahwa Ben-Gvir memperlakukan warga Kolombia dengan cara tersebut hanya karena mereka berupaya menghentikan genosida di Gaza.

Video yang menjadi sorotan tersebut menampilkan Menteri Keamanan Israel yang berasal dari sayap kanan itu sedang membawa dan mengibarkan bendera Israel berukuran besar. Dalam rekaman itu, Ben-Gvir terlihat berjalan di antara ratusan aktivis yang telah diborgol.

Para aktivis tersebut dipaksa berlutut dengan wajah menghadap lantai di sebuah fasilitas penahanan darurat. Suasana semakin mencekam dengan diputarnya lagu kebangsaan Israel di latar belakang.

“Selamat datang di Israel. Kami adalah pemilik tanah ini,” terdengar ucapan Ben-Gvir dalam video tersebut.

Seorang aktivis perempuan yang hadir dalam video itu meneriakkan seruan “Free Free Palestine”. Namun, upayanya direspons dengan kasar ketika kepalanya ditarik oleh personel militer Israel ke arah tanah.

Ben-Gvir kemudian menanggapi aksi tersebut dengan nada memerintah, “Diam diam,” saat melewati aktivis perempuan itu.

Video lain yang beredar menunjukkan para aktivis yang ditahan dengan tangan terikat di belakang punggung, wajah mereka menempel di lantai. Di tengah kondisi tersebut, Ben-Gvir kembali melontarkan kalimat yang dianggap mengejek.

“Jangan terpancing oleh teriakan mereka, jangan terlalu bersemangat,” ucapnya.

Insiden ini juga melibatkan penahanan sejumlah tokoh ternama dari lebih dari 45 negara. Di antara mereka terdapat beberapa warga Kolombia dan bahkan saudara perempuan Presiden Irlandia. Para aktivis yang ditahan melaporkan bahwa mereka mulai melakukan mogok makan.

Mereka menganggap penahanan mereka di perairan internasional sebagai tindakan pembajakan yang ilegal. Gelombang kecaman internasional pun mengalir, mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memberikan tanggapan pada Rabu lalu.

Netanyahu membela tindakan pencegatan yang dilakukan oleh militer Israel. Ia menyatakan bahwa negaranya berhak mencegah flotilla yang dianggap provokatif dan mendukung terorisme Hamas memasuki wilayah perairan Israel.

Namun, secara terpisah, Netanyahu menegaskan bahwa cara Menteri Ben-Gvir memperlakukan para aktivis flotilla tidak sejalan dengan nilai dan standar Negara Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah pernyataan resmi.

Lebih lanjut, Netanyahu mengaku telah memerintahkan pihak berwenang untuk mempercepat proses deportasi para aktivis tersebut secepat mungkin.

Pada Kamis malam, 21 Mei 2026, para aktivis akhirnya mendarat di Bandara Istanbul. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga dan sejumlah pejabat di ruang VIP bandara, seperti dilaporkan oleh Anadolu Agency pada Jumat, 22 Mei 2026.

Beberapa aktivis yang dilaporkan mengalami luka-luka segera dibawa menggunakan ambulans yang telah bersiaga di lokasi bandara. Setelah prosesi penyambutan, para aktivis dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Institut Kedokteran Forensik Istanbul.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.700: Investor Waspadai Risiko Aturan Ekspor SDA

Pemeriksaan ini merupakan bagian dari investigasi yang dibuka oleh jaksa di Istanbul terkait insiden tersebut.