KabarDermayu.com – Sebuah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China utara, pada Jumat malam, 22 Mei 2026, dilaporkan telah merenggut nyawa sedikitnya delapan pekerja. Puluhan lainnya masih terjebak di bawah tanah.
Menurut laporan media pemerintah, sebanyak 247 penambang tengah bekerja di kedalaman tambang saat insiden tragis itu terjadi. Kantor berita mengonfirmasi bahwa delapan orang telah meninggal dunia, sementara 38 lainnya belum ditemukan.
Otoritas manajemen darurat setempat menyatakan bahwa upaya penyelamatan tengah dilakukan secara intensif. Kondisi para penambang yang terjebak dilaporkan bervariasi, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.
Presiden China, Xi Jinping, telah mengeluarkan instruksi untuk mengerahkan upaya maksimal dalam penanganan korban luka. Beliau juga menekankan pentingnya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini.
Presiden Xi Jinping secara tegas meminta agar seluruh daerah dan departemen mengambil pelajaran berharga dari insiden ini. Beliau mengimbau agar kewaspadaan terhadap keselamatan kerja terus ditingkatkan, guna mencegah dan menekan potensi terjadinya kecelakaan besar di masa mendatang.
Media pemerintah, Xinhua, melaporkan bahwa kadar karbon monoksida di dalam tambang telah melampaui batas aman. Gas ini dikenal sangat beracun dan tidak memiliki bau, sehingga sangat berbahaya bagi para pekerja.
Provinsi Shanxi sendiri merupakan pusat utama pertambangan batu bara di China. Meskipun standar keselamatan pertambangan telah mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan masih sering terjadi.
Baca juga: Permendag Baru DSI: Budi Ungkap Aturan Pembentukan
Hal ini seringkali disebabkan oleh kelonggaran dalam penerapan protokol keselamatan di industri pertambangan negara tersebut. China sendiri merupakan konsumen batu bara terbesar di dunia dan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar, meskipun terus berupaya meningkatkan kapasitas energi terbarukan.





