Invasi Iran Menipiskan Stok Rudal AS untuk Pertahanan Israel

oleh -5 Dilihat
Invasi Iran Menipiskan Stok Rudal AS untuk Pertahanan Israel

KabarDermayu.com – Amerika Serikat dilaporkan menanggung beban pertahanan rudal Israel secara signifikan selama konflik dengan Iran. Laporan The Washington Post mengungkapkan bahwa Pentagon mengerahkan jauh lebih banyak rudal pencegat canggih dibandingkan Israel sendiri.

Biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk mendukung pertahanan Israel selama 40 hari perang melawan Iran ternyata sangat besar. Data dari Departemen Pertahanan AS menunjukkan ketergantungan Israel pada militer AS dalam menghadapi serangan balasan Iran yang dinilai kuat dan terukur.

Menurut laporan tersebut, Washington mengerahkan lebih dari 200 rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Jumlah ini setara dengan hampir setengah dari total stok global Pentagon yang didedikasikan khusus untuk melindungi target-target Israel.

Selain itu, kapal perang AS yang beroperasi di wilayah Mediterania timur juga dikerahkan untuk menembakkan lebih dari 100 rudal pencegat jenis Standard Missile-3 dan Standard Missile-6.

Di sisi lain, Israel dilaporkan hanya menggunakan kurang dari 100 rudal pencegat Arrow dan sekitar 90 sistem pertahanan David’s Sling. Sebagian dari rudal tersebut bahkan digunakan untuk menghadapi proyektil yang dinilai kurang canggih dari Yaman dan Lebanon, bukan rudal utama Iran.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS menyatakan bahwa secara total, Amerika Serikat menembakkan sekitar 120 rudal pencegat lebih banyak dan menghadapi dua kali lipat jumlah rudal Iran dibandingkan dengan yang dihadapi Israel.

Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa jika konflik kembali pecah dalam beberapa hari ke depan, Washington kemungkinan harus menghabiskan lebih banyak lagi stok rudal pencegatnya. Situasi ini diperparah dengan adanya laporan bahwa militer Israel sedang menghentikan sementara beberapa baterai sistem pertahanan rudalnya untuk keperluan perawatan.

“Ketimpangan ini kemungkinan akan semakin besar jika perang kembali dimulai,” ujar pejabat tersebut, mengutip laman presstv.ir pada Jumat, 22 Mei 2026.

Angka-angka ini memberikan gambaran yang cukup langka mengenai hubungan sebenarnya antara Amerika Serikat dan Israel. Analis militer K.A. Grieco menilai data tersebut sangat mencolok.

“Amerika Serikat menanggung sebagian besar misi pertahanan rudal, sementara Israel justru menghemat stok persenjataannya sendiri,” ungkap Grieco.

Menurut Grieco, meskipun strategi ini mungkin menguntungkan Tel Aviv, Amerika Serikat kini hanya memiliki sekitar 200 rudal THAAD yang tersisa. Kapasitas produksi senjata tersebut juga dilaporkan belum mampu mengejar tingginya kebutuhan global.

Kondisi ini semakin memperkuat pernyataan pejabat Iran yang sejak lama menyebut bahwa Israel tidak mampu mempertahankan diri atau memenangkan perang tanpa campur tangan besar-besaran dari Amerika Serikat.

Baca juga: Indonesia Tech Sovereignty 2026: Telkom Perkuat Kemandirian Digital Bangsa

Bahkan, seorang pejabat AS secara terbuka menyatakan bahwa Israel tidak memiliki kemampuan untuk berperang dan memenangkan perang sendirian, namun hal ini jarang terlihat oleh publik.

Pentagon sendiri berusaha meredam kekhawatiran terkait pembagian beban perang. Mereka menyatakan bahwa rudal pencegat hanyalah salah satu komponen dalam jaringan sistem pertahanan yang luas.

Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Washington mengklaim bahwa Amerika Serikat tidak memiliki mitra lain dengan kemampuan seperti Israel. Namun, klaim ini semakin sulit dipercaya seiring dengan semakin jelasnya ketergantungan Israel terhadap bantuan dana dan persenjataan dari Amerika Serikat.

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung dan dorongan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar AS kembali melanjutkan perang, situasi ini dianggap menunjukkan keberhasilan program rudal Iran.

Respons Iran yang dinilai terukur namun kuat tidak hanya meningkatkan biaya perang bagi Israel, tetapi juga menguras cadangan strategis Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya. Hal ini dinilai membuka batasan kemampuan Washington untuk terus melindungi Israel dari dampak agresinya sendiri.

Besarnya penggunaan rudal AS selama konflik juga menyoroti mahalnya biaya perang AS-Israel terhadap Iran. Sebelum perang dimulai, sejumlah pejabat militer senior AS, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, dilaporkan telah memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa perang yang berkepanjangan akan menguras persediaan senjata secara besar-besaran.

Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh Partai Demokrat di Kongres AS. Senator Arizona Mark Kelly menyatakan bahwa pada akhirnya, persoalan ini akan berkaitan dengan perhitungan stok persenjataan.

“Bagaimana kita bisa mengisi ulang amunisi pertahanan udara?” tanyanya.

Analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa kesepakatan terbaru pemerintahan Trump dengan kontraktor senjata untuk meningkatkan produksi persenjataan canggih hingga empat kali lipat masih memerlukan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi.

Pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, juga mengumumkan rencana kontrak jangka panjang baru sebagai bagian dari proposal anggaran militer Trump senilai US$1,5 triliun.

Meskipun demikian, para analis memperingatkan bahwa bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, pemulihan stok senjata AS yang terkuras akibat perang melawan Iran tetap akan memakan waktu bertahun-tahun.