Rupiah 1998 vs Sekarang: Misbakhun Ungkap Perbandingan Penurunan

oleh -6 Dilihat
Rupiah 1998 vs Sekarang: Misbakhun Ungkap Perbandingan Penurunan

KabarDermayu.com – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini tidak dapat disamakan secara langsung dengan kondisi krisis ekonomi pada tahun 1998.

Pernyataan ini disampaikan Misbakhun dalam sesi “1 on 1 Legislative with Mukhamad Misbakhun” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jogja Expo Center, Yogyakarta, pada Sabtu, 23 Mei 2026.

“Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa nilai rupiah atas dolar AS Rp17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, namun ingat rupiah saat ini mungkin pernah menyamai krisis 1998,” ujar Misbakhun.

Baca juga: Pengaduan Masyarakat Terkait Fungsi Lalu Lintas Turun Jadi 6,8 Persen

Menurutnya, pelemahan rupiah pada tahun 1998 terjadi dari titik awal yang berbeda, dengan struktur ekonomi yang sangat berbeda pula dibandingkan kondisi saat ini.

“Rupiah Rp17.500, Rp17.800 saat krisis 1998 itu berangkat dari angka Rp2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp16.600, itu berangkat dari Rp16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita sudah berbeda,” jelasnya.

Misbakhun memaparkan bahwa pada tahun 1998, banyak sektor ekonomi mengalami tekanan berat. Hal ini disebabkan oleh tingginya pinjaman dalam denominasi valuta asing dan praktik lindung nilai yang tidak memadai pada saat itu.

Dia menilai bahwa kondisi saat ini sangat berbeda. Tekanan terhadap rupiah tidak serta-merta menyebabkan sektor perbankan maupun swasta mengalami kegagalan, seperti yang terjadi pada masa krisis 1998.

“Sekarang rupiah Rp17.600, belum ada perbankan atau swasta yang mengalami kegagalan. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen yang berkembang di media sosial,” tegas Misbakhun.

Ia menambahkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dapat sangat dipengaruhi oleh informasi yang beredar, yang belum tentu mencerminkan keadaan secara utuh.

“Sentimen kita itu ditentukan sekarang oleh media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial,” tutupnya, sebagaimana dilaporkan oleh Ant.