KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan” dan akan segera difinalisasi.
Trump menyampaikan hal ini melalui platform Truth Social pada Minggu, 24 Mei 2026. Ia menyatakan bahwa kesepakatan tersebut masih memerlukan finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, serta sejumlah negara lain.
Presiden AS itu menyebutkan telah melakukan komunikasi yang “sangat baik” dengan berbagai pemimpin kawasan untuk membahas rancangan kesepakatan tersebut. Ia juga mengaku telah berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Trump, aspek-aspek akhir dan rincian kesepakatan tersebut sedang dalam proses diskusi dan akan segera diumumkan. Ia menambahkan bahwa salah satu elemen penting dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Washington dan Teheran terus berupaya menyelesaikan negosiasi mengenai usulan kesepakatan dan balasan yang menyertainya. Perantaraan dilakukan oleh Islamabad untuk membahas pembukaan Selat Hormuz, kekhawatiran mengenai program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat menyatakan bahwa Iran tidak mencari konsesi apa pun dari Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Teheran hanya menuntut hak-haknya dipulihkan, termasuk pencabutan sanksi.
Baghaei mengutip dari Tasnim pada Sabtu, 23 Mei 2026, “Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat, kami hanya menuntut hak-hak kami.” Ia menambahkan bahwa Iran menuntut penghentian tindakan kriminal Amerika Serikat terhadap rakyat Iran.
Poin-poin tuntutan Iran meliputi pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan ketersediaan aset tersebut bagi negara. Baghaei menyoroti bahwa selama lima dekade terakhir, pemerintah Iran telah menghadapi sanksi yang disebut AS sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’.
Sanksi tersebut dijatuhkan dengan berbagai alasan, terutama terkait tuduhan Washington mengenai ancaman nuklir Iran. Namun, Baghaei membantah hal tersebut, menyatakan, “Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap pihak mana pun di kawasan maupun dunia.”
Mengenai Selat Hormuz, Baghaei mengkritik blokade angkatan laut Amerika Serikat sebagai tindakan yang “sepenuhnya bertentangan dengan hukum internasional.” Ia mendesak Washington untuk mengambil langkah-langkah guna mengakhiri blokade tersebut.
Ketegangan kawasan tetap tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke Israel serta sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz. (Ant)
Baca juga: Profil Timnas Spanyol Piala Dunia 2026: Era Lamine Yamal
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan dan segera difinalisasi.
Trump mengonfirmasi hal tersebut melalui platform Truth Social pada Minggu, 24 Mei 2026. Ia menyatakan bahwa kesepakatan tersebut masih memerlukan finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, serta sejumlah negara lain.
Trump menambahkan bahwa ia telah membahas rancangan kesepakatan tersebut melalui komunikasi “yang sangat baik” dengan berbagai pemimpin kawasan. Ia juga mengaku telah berkomunikasi melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Trump, aspek-aspek akhir serta rincian dari kesepakatan tersebut saat ini tengah didiskusikan dan akan diumumkan dalam waktu dekat. Ia juga mengutarakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka sebagai bagian dari elemen lain dalam kesepakatan tersebut.
Washington dan Teheran terus melakukan negosiasi mengenai usulan kesepakatan dan balasannya melalui perantaraan Islamabad. Tujuannya adalah untuk membahas pembukaan Selat Hormuz, mengatasi kekhawatiran atas program nuklir Iran, dan pencabutan sanksi.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat menyatakan bahwa pihaknya tidak mencari “konsesi apa pun” dari Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa Teheran hanya menginginkan hak-haknya dipulihkan, serta pencabutan sanksi.
Esmaeil sebagaimana dikutip dari Tasnim pada Sabtu, 23 Mei 2026, mengatakan, “Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat, kami hanya menuntut hak-hak kami.” Baghaei menekankan bahwa Iran menuntut “penghentian tindakan kriminal Amerika terhadap rakyat Iran.”
Lebih lanjut, ia menyatakan, “Sanksi harus dicabut, aset Iran yang dibekukan harus dibebaskan dan tersedia bagi negara.” Baghaei juga menyinggung bahwa selama lima dekade terakhir, pemerintah Iran telah menghadapi apa yang AS sebut sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’.
Ia menyebutkan sanksi tersebut dijatuhkan dengan berbagai alasan, terutama terkait apa yang disebut Washington sebagai ancaman nuklir Iran. Namun, Baghaei tegas membantah, “Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap pihak mana pun di kawasan maupun dunia.”
Baghaei turut menyinggung perkembangan terkait Selat Hormuz, dengan mengkritik blokade angkatan laut Amerika Serikat sebagai tindakan yang “sepenuhnya bertentangan dengan hukum internasional.” Ia pun meminta Washington mengambil langkah untuk mengakhiri blokade tersebut.





