Como ke Liga Champions: Perjalanan Klub Bangkrut Raih Mimpi

oleh -8 Dilihat
Como ke Liga Champions: Perjalanan Klub Bangkrut Raih Mimpi

KabarDermayu.com – Musim luar biasa Como 1907 telah mencapai sebuah titik yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh banyak penggemar sepak bola Italia beberapa tahun lalu. Klub yang pernah berada di ambang kebangkrutan ini kini secara resmi akan berkompetisi di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, setelah meraih kemenangan telak 4-1 atas Cremonese pada pekan terakhir Serie A musim 2025/2026.

Kemenangan yang diraih di Stadio Giovanni Zini pada Senin dini hari WIB tersebut menandai malam paling bersejarah bagi klub yang dimiliki oleh Djarum Group. Como tidak hanya berhasil menembus empat besar klasemen, tetapi juga secara impresif mengungguli dua raksasa Italia, AC Milan dan Juventus, untuk merebut tiket Liga Champions.

Hasil ini terasa semakin dramatis mengingat pada saat yang bersamaan, AC Milan harus menelan kekalahan 1-2 dari Cagliari, sementara Juventus hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Torino dalam laga bertajuk Derby Turin. Situasi ini membuat Como finis di posisi keempat klasemen akhir Serie A dengan mengumpulkan 71 poin, hanya unggul tipis dari Milan dan Juventus.

Sementara itu, Inter Milan keluar sebagai juara Liga Italia musim ini dengan total 87 poin setelah bermain imbang 3-3 melawan Bologna. Klub berjuluk Nerazzurri ini mengakhiri musim dengan keunggulan 10 poin atas Napoli yang menempati posisi runner-up.

Namun, sorotan terbesar justru tertuju pada Como. Klub yang pada tahun 2018 berada di jurang kehancuran kini telah bertransformasi menjadi salah satu kisah paling inspiratif dan romantis dalam kancah sepak bola Eropa.

Perjalanan Luar Biasa Como

Perjalanan Como dimulai dari kasta terendah, Serie D, yang merupakan kasta kelima dalam piramida sepak bola Italia. Setelah diakuisisi pada tahun 2019, klub ini secara bertahap mulai menanjak performanya.

Mereka berhasil promosi ke Serie C, kemudian ke Serie B, hingga akhirnya menembus kasta tertinggi, Serie A, pada tahun 2024. Hanya dalam dua musim berkompetisi di Serie A, Como langsung menciptakan kejutan besar dengan pencapaian mereka saat ini.

Musim lalu, mereka berhasil finis di posisi ke-10 klasemen. Dan hanya setahun berselang, mereka sukses mengamankan tiket Liga Champions. Yang lebih mengejutkan lagi, pencapaian luar biasa ini tidak dibangun melalui pembelian pemain secara jor-joran, seperti yang sering dilakukan oleh klub-klub kaya di Eropa.

Como justru berkembang melalui sebuah proyek jangka panjang yang dirancang dengan rapi dan terukur. Di bawah kepemimpinan Cesc Fabregas, klub ini berhasil mengembangkan identitas permainan yang jelas dan konsisten.

Fabregas tidak hanya berperan sebagai pelatih, tetapi juga menjadi bagian integral dari proyek besar Como. Ia merupakan pemegang saham minoritas, bersama dengan legenda Arsenal lainnya, Thierry Henry.

Sentuhan magis dari mantan gelandang Barcelona dan Arsenal ini terlihat jelas sepanjang musim. Como tampil sebagai tim yang tajam dalam menyerang sekaligus solid dalam bertahan. Mereka bahkan menjadi salah satu tim dengan rekor pertahanan terbaik di Serie A musim ini.

Produktivitas gol mereka juga patut diacungi jempol. Como mampu mencetak lebih banyak gol dibandingkan tim-tim seperti Juventus, Roma, bahkan AC Milan dalam sebagian besar jalannya musim.

Baca juga: Oknum Polisi Aniaya Lansia Akibat Senggolan Spion

Puncak dari perjuangan mereka terjadi dalam laga penentuan melawan Cremonese. Dalam pertandingan yang krusial tersebut, Como bermain tanpa rasa takut sedikit pun. Lucas Da Cunha menjelma menjadi bintang kemenangan dengan mencetak dua gol, sementara Jesus Rodriguez dan Anastasios Douvikas juga turut mencatatkan namanya di papan skor.

Como sebenarnya sempat mendapatkan perlawanan ketat dari tim tuan rumah yang juga sedang berjuang keras untuk menghindari degradasi.

Gol pembuka tercipta pada menit ke-36 ketika Jesus Rodriguez berhasil memanfaatkan bola muntah di depan gawang kiper Emil Audero. Keunggulan ini berhasil dipertahankan hingga jeda babak pertama. Como kembali menambah keunggulan di awal babak kedua.

Pada menit ke-51, Rodriguez kembali menunjukkan perannya dengan memberikan assist yang diselesaikan dengan baik oleh Tasos Douvikas, membawa Como unggul 2-0.

Cremonese sempat memperkecil ketertinggalan melalui eksekusi penalti dari Federico Bonazzoli pada menit ke-55. Namun, harapan mereka pupus setelah Alberto Grassi diganjar kartu merah oleh wasit setelah meninjau VAR atas pelanggarannya.

Lucas Da Cunha kemudian mencetak gol melalui titik penalti pada menit ke-74, sebelum kembali mencatatkan namanya di papan skor tujuh menit berselang melalui tembakan keras mendatar yang memastikan kemenangan telak 4-1 untuk Como.

Begitu peluit akhir dibunyikan, kabar kekalahan AC Milan langsung memicu euforia besar di kalangan pemain dan para pendukung Como. Mereka menyadari bahwa sebuah sejarah baru telah berhasil diciptakan.

Untuk pertama kalinya, Como akan merasakan atmosfer Liga Champions dan mendengarkan lagu kebangsaan kompetisi tersebut di stadion mereka musim depan. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi klub dengan sejarah yang penuh liku.

Di sisi lain, hasil pertandingan ini menjadi kabar buruk bagi Emil Audero dan Cremonese. Klub yang diperkuat oleh kiper Timnas Indonesia tersebut harus terdegradasi ke Serie B setelah finis di posisi ke-18 dengan hanya mengumpulkan 34 poin. Bersama Cremonese, Hellas Verona dan Pisa juga harus turun kasta.

Sementara itu, AS Roma juga berhasil memastikan diri kembali tampil di Liga Champions setelah absen selama tujuh tahun. Klub berjuluk Giallorossi ini finis di posisi ketiga dengan 73 poin berkat kemenangan 2-0 atas Verona melalui gol Donyell Malen dan Stephan El Shaarawy. Dengan demikian, AC Milan dan Juventus harus puas berkompetisi di Liga Europa musim depan.