KabarDermayu.com – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, menyatakan dukungan penuh terhadap efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diterapkan pada tahun 2026.
Efisiensi ini berdampak pada pengurangan anggaran dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Sebagai respons terhadap efisiensi tersebut, BGN melakukan penyesuaian signifikan pada pola penyaluran program MBG.
“Kita mendukung efisiensi anggaran tersebut ya. Nah, apa bukti bahwa BGN mendukung efisiensi anggaran tersebut adalah dengan kita melakukan perubahan pola pendistribusian MBG,” kata Sony kepada wartawan di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa, 26 Mei 2026.
Perubahan utama terkait dengan durasi penyaluran MBG. Jika sebelumnya program ini berjalan selama enam hari dalam seminggu, kini akan dipersingkat menjadi lima hari.
Selain itu, penyaluran MBG akan difokuskan hanya pada hari-hari sekolah aktif. Pada hari libur sekolah, program ini tidak akan dilaksanakan.
“Yang semula 6 hari, menjadi 5 hari, dan konsepnya adalah MBG diberikan pada saat siswa ada di sekolah. Jadi kalau siswanya misalkan libur, nggak lagi ya atau tidak misalkan kegiatan di luar sekolah, maka dia tidak diberikan MBG,” jelas Sony.
Perubahan penting lainnya adalah penghapusan sistem bundling. Sebelumnya, jatah MBG untuk hari libur seringkali dibagikan beberapa hari sebelumnya, saat hari sekolah masih berlangsung.
“Kemudian, yang kedua, kalau kemarin kita mengenal adanya bundling begitu ya. Bundling itu contoh misalkan, hari Rabu, Kamis libur, maka hari Selasa itu MBG-nya dimakan di tempat dan yang untuk libur itu dikasih yang namanya paket-paket, paket-paket yang dibawa ya. Nah sekarang sudah tidak lagi. Nah ini adalah wujud dari kita menerapkan efisiensi anggaran,” tegasnya.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 26 Mei 2026: Turun, Emas Global Bervariasi
Keputusan pemangkasan anggaran program MBG dalam APBN 2026 ini memang berasal dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Pagu anggaran program tersebut dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.
Purbaya menjelaskan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 bahwa pemangkasan ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo. Tujuannya adalah untuk memastikan pengelolaan dana program MBG dapat dilakukan secara lebih efisien.
Hingga 30 April 2026, realisasi penyaluran anggaran program ini tercatat sebesar Rp75 triliun. Anggaran tersebut telah berhasil menjangkau 61,96 juta penerima manfaat dan 27.952 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Purbaya sebelumnya juga menyatakan bahwa anggaran MBG yang telah tersalurkan hingga 30 April 2026 mencapai Rp75 triliun, yang setara dengan 22,4 persen dari pagu APBN awal sebesar Rp335 triliun.
“Tapi nanti bukan Rp 335 triliun. Ada penghematan tertentu sesuai dengan instruksi Presiden, sehingga dana Badan Gizi Nasional (BGN) bisa dipakai lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Meskipun belum merinci detail penghematan lanjutan, Purbaya menegaskan bahwa Presiden Prabowo sedang fokus memperbaiki manajemen program MBG dan cara BGN dalam membelanjakan anggarannya agar lebih efektif.
“Presiden sedang menghitung bagaimana yang terbaik penghematannya tanpa mengganggu efektivitas program itu sendiri dalam hal memberi makan murid-murid sekolah. Yang penting itu,” pungkasnya.





