Direktur Utama BRI: Adopsi AI Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah

oleh -11 Dilihat
Direktur Utama BRI: Adopsi AI Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa industri perbankan ke era transformasi baru. Layanan keuangan kini tidak lagi hanya mengandalkan jaringan fisik, melainkan bergeser menuju model layanan yang terintegrasi dengan ekosistem digital dan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Perubahan ini menuntut perbankan untuk terus beradaptasi agar tetap relevan di tengah pergeseran perilaku nasabah dan dinamika industri yang bergerak cepat.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan pandangannya mengenai hal ini dalam sesi “Business Talks” di Jogja Financial Festival 2026. Acara tersebut diselenggarakan di Jogja Expo Center, Yogyakarta, pada 23 Mei 2026. Hery menggarisbawahi bagaimana kemajuan teknologi telah mentransformasi industri perbankan secara menyeluruh.

Transformasi tersebut meliputi pola interaksi nasabah, model distribusi layanan, hingga lanskap persaingan industri keuangan yang kini semakin didominasi oleh ekosistem digital.

Hery Gunardi menjelaskan bahwa perbankan terus mengalami evolusi. Ia mengutip pandangan Brett King, seorang penulis terkemuka yang kerap membahas isu perbankan. Menurut King, perbankan telah melalui beberapa era.

Era Bank 1.0 ditandai dengan layanan transaksi dasar yang hanya mengandalkan cek dan giro. Kemudian, Bank 2.0 memperkenalkan penggunaan Automatic Teller Machine (ATM) yang memungkinkan nasabah bertransaksi kapan saja, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

“Selanjutnya, Bank 3.0 berfokus pada internet banking. Pada era ini, nasabah, terutama korporasi, tidak perlu lagi mendatangi cabang bank untuk melakukan transaksi, mereka bisa melakukannya dari kantor melalui internet banking,” ujar Hery.

“Nah, era keempat ini adalah terkait dengan teknologi finansial atau fintech dan digitalisasi. Digitalisasi ini memang telah secara signifikan mengubah perilaku nasabah, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” lanjutnya.

Proses digitalisasi di sektor perbankan berjalan dengan sangat cepat. Pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu turut menjadi katalisator yang mempercepat adopsi digital.

“Saat pandemi, nasabah tidak bisa datang ke cabang. Nasabah yang sebelumnya gaptek (gagap teknologi) dan tidak terbiasa menggunakan mobile banking, terpaksa menggunakannya karena tidak bisa bertransaksi di ATM, cabang, maupun melalui teller,” ungkap Hery.

“Menanggapi kondisi ini, menurut Brett King, bank sejatinya adalah perusahaan teknologi dengan lisensi perbankan. Jadi, bank adalah sebuah perusahaan teknologi,” tegas Hery.

Dengan demikian, lanjutnya, perbankan tidak dapat menghindari dan harus mengikuti arus perkembangan zaman.

“Ini adalah sebuah keharusan bagi kita untuk melakukan transformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya soal digitalisasi atau otomasi, tetapi juga terkait dengan kehadiran AI dan Generative AI. Jika kita tidak melakukan perubahan ini, kita tidak akan mampu mengikuti tren, dan bank akan ditinggalkan oleh nasabahnya,” pungkas Hery.