Akselerasi Ekspor & Hilirisasi Dorong Ekonomi RI, Inflasi Tinggi Sorotan

oleh -5 Dilihat
Akselerasi Ekspor & Hilirisasi Dorong Ekonomi RI, Inflasi Tinggi Sorotan

KabarDermayu.com – Potret ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan positif dari sisi produksi dan ekspor, namun menyisakan sejumlah titik kerawanan yang perlu diwaspadai. Khususnya, kenaikan inflasi pada Mei 2026 yang kembali menanjak ke 3,08% secara tahunan menjadi perhatian utama.

Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah, mengamati bahwa kenaikan ekspor ini tidak hanya dipengaruhi oleh depresiasi rupiah, tetapi juga respons positif dari produksi olahan manufaktur dan barang yang terkait dengan program hilirisasi. Namun, tekanan inflasi yang meningkat dan menipisnya surplus dagang menjadi sinyal yang perlu segera ditangani.

“Akselerasi ekspor pada April yang melonjak hampir 22%, dan kenaikan ekspor nikel olahan ke Tiongkok hingga 73%, adalah kabar yang layak disyukuri. Ini bukti hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan kita harapkan juga menambah pasokan devisa justru ketika surplus dagang kita sedang menipis,” ujar Halim.

Prasasti juga melihat pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai langkah strategis yang baik untuk terus mendorong ekspor dan memupuk devisa negara. Namun, Halim menekankan pentingnya langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar momentum perbaikan ekonomi tidak hilang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia yang cukup menggembirakan di tengah ketidakpastian global. Meskipun tekanan inflasi cenderung meningkat dan nilai tukar rupiah melemah, Prasasti melihat adanya kesempatan bagi ekspor untuk terus tumbuh, meskipun disertai tantangan yang memerlukan penanganan segera.

Rilis Indikator Ekonomi BPS menunjukkan ekspor Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar, tumbuh 5,48% secara tahunan, dengan lonjakan tajam pada April sebesar 21,98%. Kenaikan signifikan ini ditopang oleh produk industri pengolahan (+29,07%) serta produk hilirisasi seperti nikel olahan ke Tiongkok (+73,6%) dan CPO (+20,4%).

Halim Alamsyah juga menilai kenaikan tekanan inflasi bersumber dari kelangkaan pasokan akibat konflik global dan komponen volatile foods. Selain itu, depresiasi rupiah turut berkontribusi. Oleh karena itu, pengendalian nilai tukar dan inflasi memerlukan perhatian cermat karena ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih sempit.

Ia menjelaskan bahwa strategi pemerintah untuk mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar melalui kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas dan koordinasi kebijakan makroekonomi sangat kritikal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten,” papar Halim.

Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menambahkan bahwa meskipun inflasi naik dan perlu diperhatikan, karakternya tidak mencerminkan ekonomi yang terlalu panas. Pendorong utama inflasi adalah volatile foods seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah, yang bersifat musiman dan terkait pasokan serta cuaca, bukan karena permintaan domestik yang melonjak.

“Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural,” jelas Piter.

Data BPS menempatkan cabai merah (naik 25,64%), tomat (9,82%), dan bawang merah (6,65%) sebagai pendorong utama inflasi. Piter juga menilai langkah pemerintah menahan harga bahan bakar bersubsidi turut meredam tekanan harga.

Dari sisi perdagangan, Piter membaca lonjakan impor bahan baku dan barang modal sebesar 24,56% secara tahunan pada April sebagai sinyal yang menggembirakan. Ini menunjukkan pengusaha bersiap berproduksi karena adanya antisipasi permintaan di masa depan.

“Kalau yang naik itu impor bahan baku dan barang modal, itu sebenarnya kabar baik. Bahan baku dan mesin diimpor karena pengusaha sedang bersiap berproduksi, dan mereka berproduksi karena membaca ada permintaan di depan. Jadi mengecilnya surplus ini memang bukan kondisi ideal, tapi penyebabnya bukan hal yang menakutkan. Ini bukan ekonomi yang melemah melainkan ekonomi yang sedang bergerak,” ujar Piter.

Mengenai nilai tukar, Piter menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah memiliki banyak sebab, namun faktor yang paling menonjol adalah tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah. Sentimen ini mendorong permintaan dolar yang lebih besar, bahkan melebihi fundamentalnya.

“Faktornya sudah campur aduk, tidak bisa kita tunjuk satu saja. Tapi yang menurut saya paling besar pengaruhnya sekarang adalah mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah. Begitu sentimen terbentuk, permintaan terhadap dolar membesar. Bahkan orang yang sebenarnya tidak butuh dolar pun ikut membeli. Unsur spekulasi dan psikologis inilah yang justru memperdalam pelemahan rupiah melebihi yang bisa dijelaskan oleh fundamentalnya sendiri,” jelas Piter.

Piter memandang rilis BPS kali ini sebagai potret ekonomi yang secara keseluruhan masih relatif baik, namun belum sepenuhnya seimbang. Akselerasi ekspor dan hilirisasi patut diapresiasi, namun inflasi yang menanjak, surplus dagang yang menyusut, dan defisit migas yang melebar mengingatkan bahwa fondasi ekonomi masih perlu dijaga.

Yang dibutuhkan ke depan adalah konsistensi kebijakan serta sinkronisasi antara fiskal dan moneter agar perbaikan di sisi ekspor benar-benar menular ke kepercayaan terhadap arah ekonomi nasional secara keseluruhan.