Percepat Pemulihan Korban Bencana dengan Dapur Umum Terstandar

oleh -7 Dilihat
Percepat Pemulihan Korban Bencana dengan Dapur Umum Terstandar

KabarDermayu.com – Masa kritis pasca-bencana alam tidak hanya berakhir ketika tenda darurat didirikan dan pasokan logistik mencukupi. Tantangan jangka panjang yang sering terabaikan adalah risiko malnutrisi pada balita akibat terbatasnya akses terhadap makanan sehat dan potensi kesalahan dalam pemberian asupan gizi.

Dalam situasi darurat, edukasi langsung kepada masyarakat di tingkat akar rumput terbukti menjadi intervensi kesehatan publik yang paling efektif. Gerakan ini berperan sebagai garda terdepan dalam mencegah peningkatan kasus stunting dan penurunan status gizi anak-anak di wilayah yang terdampak bencana.

Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama para mitranya telah memberikan respons terhadap situasi pasca-bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui penyaluran bantuan serta kegiatan edukasi bagi masyarakat. Selama periode Januari hingga Mei 2026, inisiatif ini telah menjangkau 375 keluarga di tiga wilayah terdampak yang terpencil dan jarang tersentuh bantuan logistik, yaitu Desa Batang Ara, Pematang Durian, dan Desa Serba.

Dalam laporan publik mengenai pelaksanaan kegiatan di ketiga lokasi bencana pada Selasa, 9 Juni 2026, Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistria, memaparkan sejumlah temuan memprihatinkan di lapangan yang mendasari urgensi intervensi ini.

“Faktanya di lapangan, khususnya di Kampung Batang Ara (Aceh Tamiang), keterbatasan akses membuat anak bawah tiga tahun (batita) terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu. Selain itu, anak-anak mengalami trauma psikologis yang tidak kasat mata, mereka ketakutan saat melihat hujan atau air, yang berujung pada terganggunya pola makan mereka. Anak-anak adalah kelompok paling rentan, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi justru di masa pemulihan ketika bantuan mulai menyusut,” ujar Satria Yudistria pada Selasa, 9 Juni 2026.

Melalui program ini, YAICI dan mitranya menerapkan pendekatan pemulihan yang komprehensif. Pendekatan ini mencakup penyembuhan trauma, distribusi mainan anak untuk memulihkan aspek psikososial, diskusi kelompok bersama para ibu, hingga edukasi literasi gizi keluarga.

Gerakan kemanusiaan ini diperkuat oleh peran signifikan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melalui pengerahan kader-kader di daerah yang bertindak sebagai ujung tombak di lapangan. Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., menjelaskan bahwa para kader melakukan pelacakan sasaran secara langsung dari rumah ke rumah. Mereka menyisir posko pengungsian hingga ke hunian sementara (Huntara) yang sempit berukuran 4×6 meter demi mendata ibu hamil, ibu menyusui, dan balita terdampak agar intervensi gizi tidak keliru sasaran.

Mengingat masyarakat di pengungsian terbiasa dengan pola konsumsi pangan instan dan kental manis yang sering disalahartikan sebagai susu pertumbuhan, kader Aisyiyah turun tangan melakukan intervensi langsung.

“Kami mengumpulkan para ibu di mushola, sekolah, bahkan di area perkebunan sawit karena minimnya fasilitas. Di sana, kami mengedukasi konsep Gizi Seimbang atau ‘Isi Piringku’, membagikan pangan lokal bernutrisi seperti telur rebus dan bubur kacang hijau, serta mengajari anak-anak membuat dan minum susu pertumbuhan yang benar bersama-sama. Ini penting untuk mengalihkan konsumsi anak dari asupan tinggi gula,” jelas Chairunnisa.

Senada dengan hal tersebut, Perwakilan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, Rahmawati Husein MCP.,Ph.D., menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak pada fase pemulihan sangat ditentukan oleh penanganan pada masa tanggap darurat yang sering kali berjalan lama, bahkan hingga transisi darurat selama enam hingga tujuh bulan. Ia menyoroti pentingnya merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas terkait penyediaan pangan darurat dan pengelolaan data terpilah yang akurat sejak awal bencana.

Rahmawati juga mengingatkan agar bantuan pemulihan gizi tidak menjadikan masyarakat bergantung pada makanan instan dari luar. Pemanfaatan bahan pangan lokal dan pelibatan perempuan dalam mengelola dapur balita sehat dinilai jauh lebih berkelanjutan. Pihaknya juga mendorong strategi edukasi mandiri melalui kebun pangan darurat di sekitar hunian sementara, sehingga masyarakat dapat secara mandiri menyediakan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sehat.

Dari perspektif manajemen bencana, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengakui bahwa fase pemulihan pasca-bencana merupakan sebuah proses “maraton” jangka panjang yang memerlukan pendekatan berbeda dari fase tanggap darurat. Tantangan terbesar di masa pemulihan adalah penurunan jumlah relawan secara drastis serta pudarnya koordinasi lintas lembaga, di saat jaminan kesehatan dari pemerintah daerah biasanya hanya mencakup tiga bulan pertama.

“Selama masa tanggap darurat, banyak lembaga kemanusiaan termasuk MDMC, cenderung berfokus pada cakupan logistik bahan mentah umum secara luas, sehingga pemenuhan gizi spesifik kelompok rentan seringkali terabaikan. Oleh karena itu, MDMC sangat mengapresiasi langkah YAICI yang konsisten mengingatkan pentingnya integrasi aspek gizi.”

Ke depannya, MDMC mendorong adanya SOP lintas lembaga dan standarisasi dapur umum yang terpilah (khusus dewasa, lansia, dan balita) yang dilengkapi petunjuk resep praktis.