Bos BI Paparkan 5 Strategi Perkuat Stabilitas Rupiah di Depan Komisi XI DPR

oleh -8 Dilihat
Bos BI Paparkan 5 Strategi Perkuat Stabilitas Rupiah di Depan Komisi XI DPR

KabarDermayu.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memaparkan lima strategi utama yang akan dijalankan oleh bank sentral untuk memperkuat dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Senayan, Jakarta, Perry menjelaskan bahwa strategi pertama adalah intervensi di pasar spot dan transaksi derivatif valuta asing, yang dikenal sebagai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Strategi kedua melibatkan penyesuaian suku bunga acuan. BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) pada Mei dan 25 bps pada Juni. Langkah ini bertujuan untuk menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor asing, sehingga mendorong arus modal masuk.

Selanjutnya, strategi ketiga adalah penerbitan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Penerbitan SRBI diharapkan dapat menarik kembali aliran portofolio asing yang sempat keluar akibat gejolak global.

Untuk meningkatkan daya tarik SRBI bagi investor asing, BI melakukan lelang dua kali seminggu. Selain itu, BI memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai sebesar 10 persen.

Strategi keempat adalah komitmen BI untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Hal ini penting untuk memastikan kelancaran transaksi ekonomi.

Kelima, BI akan melanjutkan kebijakan pembatasan pembelian dolar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik dan transfer dolar AS ke luar negeri. Kebijakan ini telah mulai diberlakukan sejak awal Juni.

Dalam kebijakan pembatasan ini, BI menetapkan batas pembelian dan transfer dolar AS ke luar negeri tanpa transaksi yang mendasarinya (underlying transaction) sebesar US$25.000 per pelaku per bulan. Angka ini merupakan penurunan dari aturan sebelumnya yang sebesar US$50.000 per pelaku per bulan.

Perry juga menekankan pentingnya peningkatan pengawasan terhadap bank-bank dan korporasi.

“Kami bersama-sama terjun ke bank-bank, untuk meyakinkan bahwa transaksi valas di perbankan, yang dari korporasi maupun dari individu, itu harus ada underlying-nya,” ujar Perry.