KabarDermayu.com – Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) terhadap organisasi di Indonesia mengalami lonjakan signifikan sebesar 62 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini dilaporkan oleh StormWall, sebuah perusahaan keamanan siber yang spesialis dalam perlindungan DDoS.
Pendiri dan CEO StormWall, Ramil Khantimirov, menyatakan bahwa perusahaan mereka telah memitigasi lebih dari 280.000 serangan yang menargetkan organisasi di Indonesia selama tiga bulan pertama tahun ini. Angka ini setara dengan sekitar 3.100 serangan per hari.
“Sekitar 70 persen serangan terhadap target di Indonesia bermotif finansial, dengan 41 persen di antaranya disertai tuntutan tebusan,” ungkap Ramil dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 19 Juni 2026.
Angka peningkatan serangan di Indonesia ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 30 persen. Temuan ini menjadi perhatian khusus, mengingat secara global serangan yang didorong oleh hacktivisme justru lebih banyak terjadi dibandingkan serangan bermotif komersial pada kuartal I-2026. Fenomena global ini sebagian disebabkan oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
“Serangan DDoS di Indonesia juga cenderung berlangsung lebih lama dibandingkan rata-rata global. Hanya 62 persen serangan yang berakhir dalam waktu kurang dari lima menit, sementara secara global angka tersebut mencapai sekitar 78 persen,” jelas Ramil.
Dari sisi teknis, StormWall mencatat peningkatan jumlah serangan multi-vector sebesar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, 62 persen dari seluruh serangan yang terjadi menggabungkan dua atau lebih vektor serangan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 26 persen serangan bahkan menggabungkan tiga vektor atau lebih.
Selain itu, serangan probing juga mengalami peningkatan tajam sebesar 81 persen, sementara serangan carpet bombing meningkat sebesar 76 persen. Peningkatan ini menunjukkan adanya berbagai taktik yang digunakan oleh pelaku serangan.
Sektor telekomunikasi menjadi target paling sering dalam serangan DDoS di Indonesia, menyumbang 26 persen dari seluruh lalu lintas serangan. Industri hiburan menempati posisi kedua dengan 22 persen, diikuti oleh sektor keuangan sebesar 17 persen.
Menariknya, industri hiburan menjadi sasaran yang lebih dominan di Indonesia dibandingkan dengan tren global. Berdasarkan data StormWall, hanya 9 persen serangan DDoS di seluruh dunia yang menargetkan sektor ini. Hal ini menunjukkan adanya fokus serangan yang berbeda di pasar Indonesia.
“Di Indonesia, serangan DDoS lebih berkaitan dengan uang daripada politik,” tegas Ramil, menggarisbawahi motif ekonomi di balik sebagian besar serangan.
Salah satu tren yang juga diamati oleh StormWall adalah meningkatnya aktivitas low-and-slow probing. Ini adalah jenis serangan berintensitas rendah yang dilancarkan secara bertahap. Pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi sistem keamanan.
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi titik-titik lemah pada infrastruktur target sebelum melancarkan serangan utama yang lebih besar dan merusak. Taktik ini membuat deteksi menjadi lebih sulit karena tidak menimbulkan lonjakan lalu lintas yang mencurigakan.
“Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal,” ujarnya.
Ilustrasi hacker.
Photo :
- U-Report
Peningkatan serangan DDoS ini menjadi tantangan serius bagi industri keamanan siber di Indonesia. Organisasi perlu segera memperkuat pertahanan mereka untuk menghadapi ancaman yang semakin canggih dan beragam ini.
StormWall merekomendasikan agar setiap organisasi memiliki strategi perlindungan DDoS yang komprehensif, termasuk solusi deteksi dan mitigasi yang mampu menangani berbagai jenis serangan, serta pemantauan keamanan yang berkelanjutan.





