IHSG Ambruk, MBG Dipangkas: 5 Peristiwa Ekonomi Pekan Ini

oleh -2 Dilihat
IHSG Ambruk, MBG Dipangkas: 5 Peristiwa Ekonomi Pekan Ini

KabarDermayu.com – Pekan terakhir Juni 2026 diwarnai oleh serangkaian peristiwa ekonomi yang signifikan, mulai dari gejolak di pasar modal hingga langkah strategis pemerintah dalam mengelola anggaran dan memulihkan perekonomian nasional.

Periode 22-27 Juni 2026 menyaksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam, arus keluar modal asing yang deras, serta sejumlah kebijakan penting yang dirancang untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.

Berikut adalah lima perkembangan ekonomi utama yang paling menarik perhatian publik dan pelaku usaha sepanjang pekan ini.

IHSG Tertekan, Investor Asing Lepas Saham Rp3,43 Triliun

Pasar modal Indonesia menghadapi tantangan berat di penghujung bulan Juni 2026. IHSG dilaporkan tergelincir hingga 4,55 persen, menempatkannya di bawah level psikologis 6.000 dan berakhir di angka 5.896,13.

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh pelemahan saham-saham unggulan di sektor perbankan dan energi. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami koreksi signifikan sebesar 7,42 persen, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) anjlok hingga 24,55 persen. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga tidak luput dari tekanan.

Selama periode yang sama, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp3,43 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencapai Rp904,07 miliar.

Dampak dari aksi jual ini terasa pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang susut 4,51 persen, dari Rp10.788 triliun menjadi Rp10.302 triliun. Meskipun demikian, lembaga pemeringkat global MSCI mengakui upaya reformasi transparansi pasar modal Indonesia yang telah diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Reformasi ini akan terus dipantau hingga November 2026.

Pemerintah Suntik Likuiditas Rp400 Triliun ke Bank Himbara

Menyikapi potensi pengetatan likuiditas di sektor perbankan, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp400 triliun ke dalam bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor riil dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional secara keseluruhan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa suntikan likuiditas ini akan memberikan ruang intermediasi yang lebih luas bagi perbankan, yang pada gilirannya berpotensi menurunkan suku bunga pasar. Target pertumbuhan kredit nasional pun diharapkan dapat terealisasi di kisaran 14 hingga 15 persen tahun ini.

Peningkatan pembiayaan ini diharapkan dapat mendorong pelaku usaha untuk kembali berekspansi, memberikan sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Anggaran MBG Disesuaikan, Pengawasan Daerah Diperketat

Program prioritas nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG), juga menjadi sorotan utama dalam sepekan terakhir. Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan telah menyepakati penyesuaian anggaran program tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi fiskal.

Penyesuaian ini bertujuan agar pelaksanaan program strategis nasional tetap berjalan optimal tanpa menimbulkan beban berlebih pada defisit anggaran negara, mengingat keterbatasan ruang belanja APBN 2026.

Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga membentuk tim khusus yang bertugas mengawasi pelaksanaan MBG di seluruh daerah. Pengawasan ini akan melibatkan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) yang memiliki perwakilan di berbagai kabupaten dan kota.

Langkah ini krusial untuk memastikan efektivitas penggunaan anggaran dan mencegah potensi penyalahgunaan dana dalam operasional dapur MBG.

Pemerintah Siapkan Panda Bond Akhir Juli 2026

Dalam upaya diversifikasi sumber pendanaan, pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond pada akhir Juli 2026. Instrumen ini merupakan surat utang negara yang diterbitkan dalam mata uang Yuan atau Renminbi.

Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, minat investor dari Tiongkok terhadap instrumen ini dilaporkan cukup tinggi. Penerbitan di akhir Juli diharapkan dapat memaksimalkan permintaan investor dan menghimpun dana dengan biaya yang lebih kompetitif.

Penerbitan Panda Bond ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memanfaatkan likuiditas global dan memperluas basis investor internasional.

Sensus Ekonomi 2026 Masuki Tahap Penting

Di bidang statistik dan perencanaan ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) telah memasuki fase krusial dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan bahwa sensus ini merupakan instrumen vital untuk memotret kondisi riil perekonomian nasional dan daerah. Hasil sensus ini akan menjadi fondasi penting dalam perumusan berbagai kebijakan ekonomi di masa mendatang.

BPS mengingatkan bahwa batas waktu pengisian data secara mandiri oleh pelaku usaha akan berakhir pada 30 Juni 2026. Partisipasi aktif dari seluruh pelaku usaha, dari skala mikro hingga korporasi besar, sangat dibutuhkan untuk memastikan data yang akurat. Data ini krusial untuk mendukung kebijakan hilirisasi dan target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Di sektor energi, pemerintah memastikan penghentian impor solar tahun ini seiring pemberlakuan mandatori biodiesel B50 pada Juli 2026. Sementara itu, dalam sektor logistik energi, PT Pertamina International Shipping (PIS) melaporkan Kapal Gamsunoro telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman, meskipun sempat tertahan akibat situasi di Timur Tengah.