Gas Metana Batubara Tanjung Enim: Solusi Kurangi Impor LPG

oleh -26 Dilihat
Gas Metana Batubara Tanjung Enim: Solusi Kurangi Impor LPG

KabarDermayu.com – Pemerintah Indonesia tengah menggenjot percepatan pembangunan fasilitas Compressed Natural Gas (CNG) Mother Station di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus memaksimalkan potensi pemanfaatan Gas Metana Batubara (GMB) atau Coal Bed Methane (CBM).

Meskipun dihadapkan pada beberapa tantangan administratif, progres pembangunan fasilitas ini dipastikan berjalan lancar. Target awal pengerjaan fisik direncanakan akan dimulai pada tahun ini, menandakan komitmen kuat pemerintah untuk mewujudkan proyek vital ini.

Kepala Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman, mengonfirmasi bahwa koordinasi intensif antara berbagai kementerian dan lembaga telah membuahkan hasil positif. Kesepakatan untuk melanjutkan pembangunan fasilitas energi strategis ini telah tercapai, membuka jalan bagi realisasi proyek.

“Menyelesaikan koordinasi untuk pembangunan Mother Station CNG yang rencana akan dibangun di Tanjung Enim,” ujar Dudung dalam keterangannya pada Sabtu, 4 Juli 2026. Ia mengakui adanya beberapa kendala yang perlu diatasi, namun menegaskan bahwa seluruh pihak memiliki visi yang sama untuk memastikan proyek nasional ini segera terwujud.

“Memang ada beberapa permasalahan, namun karena semua ini sepakat bahwa demi bangsa dan negara dan ini merupakan proyek nasional, program strategis nasional yang ini harus bisa kita kembangkan,” jelasnya. Dudung menekankan bahwa setiap tahapan administrasi akan tetap mematuhi regulasi yang berlaku.

Salah satu aspek penting yang sedang diselesaikan adalah penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di tingkat kabupaten. Proses ini memerlukan persetujuan dari pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

“Dan dari kesepakatan itu semuanya secara administrasi ini tetap ya sesuai dengan aturan yang berlaku, ada perubahan RDTR dari kabupaten, karena memang harus disepakati dari tingkat pusat di Kementerian ATR/BPN,” terangnya. Dengan statusnya sebagai Proyek Strategis Nasional, Dudung meyakinkan bahwa seluruh proses administrasi akan dipercepat.

Percepatan ini bertujuan agar target pembangunan dapat tercapai sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. “Maka karena ini program strategis nasional, ini akan ditindaklanjuti,” tegasnya. Pemerintah menargetkan agar proyek ini dapat segera memasuki tahap konstruksi setelah semua urusan administrasi rampung.

“Tentunya diketahui oleh semua pihak, namun di dalam penyelesaian administrasi itu sendiri karena ini harus segera target sesuai dengan tahun ini, maka proyek ini akan segera dikerjakan,” pungkasnya. Pengembangan Gas Metana Batubara di Muara Enim memang menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.

Proyek ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Selain itu, pemanfaatan GMB juga berkontribusi pada diversifikasi sumber energi domestik.

Kawasan Tanjung Enim sendiri diperkirakan menyimpan potensi sumber daya CBM yang sangat besar, mencapai sekitar 9,7 triliun kaki kubik (TCF). Potensi ini menempatkan Tanjung Enim sebagai salah satu pusat pengembangan migas nonkonvensional terbesar di tanah air.

Melalui pembangunan CNG Mother Station, gas yang dihasilkan dari sumur-sumur produksi akan dikompresi terlebih dahulu. Proses kompresi ini penting sebelum gas didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan energi, baik bagi masyarakat maupun sektor industri.

Skema distribusi ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memperkuat rantai pasok gas nasional dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri. PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN), selaku Subholding Gas Pertamina, telah menyiapkan infrastruktur penyaluran gas dari CBM Tanjung Enim.

Penyaluran gas ini akan dilakukan secara bertahap. Awalnya, ditargetkan mampu menyalurkan 1 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), dengan potensi peningkatan hingga mencapai 25 MMSCFD di masa mendatang.

Lebih dari sekadar mendukung kebutuhan energi nasional, proyek ini juga memegang peranan penting dalam pengembangan ekosistem gas bumi. Gas bumi dipandang sebagai energi transisi yang krusial dalam upaya menuju sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.