KabarDermayu.com – PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) secara serius memperkuat transformasinya menuju kawasan industri rendah karbon. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap agenda dekarbonisasi nasional dan upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) di sektor industri pada tahun 2050.
Komitmen IWIP ini diwujudkan melalui partisipasinya dalam Net Zero Industrial Precincts (NZIP), sebuah program terdepan yang digagas oleh Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Climateworks Centre. Program ini didesain khusus untuk mendorong pengembangan kawasan industri yang lebih ramah lingkungan di seluruh Indonesia.
Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Dr. Winardi, mengungkapkan bahwa perkembangan implementasi program NZIP telah menjadi topik utama dalam sebuah lokakarya penting. Lokakarya yang membahas perkembangan Program NZIP Fase 2 serta rencana tindak lanjut untuk tahun 2026 tersebut, digelar di Jakarta pada Selasa, 1 Juli 2026.
“Kegiatan ini menjadi forum vital yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengelola kawasan industri, pelaku industri, hingga seluruh pemangku kepentingan terkait. Tujuannya adalah untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi guna mempercepat laju transformasi kawasan industri menuju model yang lebih rendah emisi karbon,” ujar Winardi dalam keterangan resminya pada Jumat, 3 Juli 2026.
Winardi menambahkan bahwa transformasi kawasan industri merupakan salah satu pilar strategis dalam pencapaian target dekarbonisasi sektor industri nasional. Ia menekankan bahwa kawasan industri kini tidak hanya dipandang sebagai pusat produksi semata, melainkan sebagai sebuah ekosistem terpadu yang mendorong efisiensi sumber daya, pengembangan infrastruktur bersama, pemanfaatan energi bersih, serta pengelolaan lingkungan yang komprehensif.
“Melalui pendekatan holistik ini, kami berharap pengelola kawasan, para tenant, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan dapat secara sinergis mengidentifikasi peluang-peluang pengurangan emisi. Ini bisa melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan sumber energi rendah karbon, pembangunan infrastruktur kolektif, hingga penguatan permintaan pasar terhadap produk-produk industri yang memiliki jejak emisi rendah,” jelas Winardi.
Program NZIP sendiri dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Fase 1, yang berlangsung dari tahun 2024 hingga 2025, telah berhasil memetakan kawasan industri potensial dan merumuskan kerangka analisis sebagai fondasi pengembangan kawasan industri rendah karbon.
Sementara itu, Fase 2, yang dijadwalkan dari tahun 2025 hingga 2028, akan lebih berfokus pada penyusunan jalur transisi dekarbonisasi yang terukur, studi kelayakan sosial ekonomi, analisis pasar yang mendalam, serta pengembangan peluang investasi yang berkelanjutan.
“IWIP telah menunjukkan komitmennya dan menjadi salah satu kawasan industri yang aktif berpartisipasi dalam implementasi NZIP Fase 2 ini,” ungkap Winardi.
Dalam kesempatan terpisah, Deky Tetradiono, Deputy General Manager Sustainable Development PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), menyambut baik implementasi Program NZIP. Ia melihatnya sebagai momentum krusial bagi IWIP untuk mengintegrasikan dan memperkuat pengembangan kawasan industri rendah karbon secara lebih menyeluruh.
“Melalui implementasi Program NZIP, IWIP memiliki kesempatan emas untuk mengidentifikasi berbagai peluang pengurangan emisi secara lebih komprehensif di tingkat kawasan. Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan pengembangan infrastruktur bersama, peningkatan efisiensi energi secara signifikan, serta kolaborasi yang lebih erat dengan para tenant dan seluruh pemangku kepentingan. Hal ini pada akhirnya akan memastikan implementasi dekarbonisasi berjalan lebih efektif dan efisien,” ujar Deky.
Sebagai bagian integral dari transformasi menuju kawasan industri yang berkelanjutan dan rendah karbon, IWIP telah meluncurkan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang terintegrasi dan inovatif. Upaya-upaya ini mencakup pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas 2 × 2,5 megawatt dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 15 megawatt.
Selain itu, IWIP juga memanfaatkan waste heat generation (panas buangan) yang diperkirakan mencapai 90 megawatt untuk meningkatkan efisiensi energi secara keseluruhan. Tidak ketinggalan, program rehabilitasi kawasan mangrove juga menjadi bagian penting dari strategi penyerapan karbon yang dijalankan.
Lebih lanjut, transformasi ini juga didukung kuat oleh penerapan konsep cleaner production yang mengadopsi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pengembangan hilirisasi produk sesuai dengan peta industri (industry tree) juga menjadi fokus utama untuk mendorong terciptanya ekonomi sirkular (circular economy) yang kuat di kawasan tersebut.





