Gaji Awal Dosen ISBI Bandung Tak Cukup, Terpaksa Berjualan Bubur Bayi

oleh -2 Dilihat
Gaji Awal Dosen ISBI Bandung Tak Cukup, Terpaksa Berjualan Bubur Bayi

KabarDermayu.com – Seorang dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Imam Akhmad, tak kuasa menahan tangisnya saat memberikan kesaksian dalam sidang gugatan terkait kesejahteraan dosen di Mahkamah Konstitusi (MK). Ia mengungkapkan bahwa gaji pertamanya sebagai dosen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan tidak mampu diberikan kepada orang tuanya sebagai bentuk terima kasih.

Kisah pilu ini terekam dalam sebuah video yang kemudian menjadi viral di media sosial. Dalam sidang yang digelar pada Senin, 6 Juli 2026, Imam menceritakan perjuangannya menyelesaikan pendidikan magister yang didukung penuh oleh kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang sayur.

Namun, realitas yang dihadapi Imam setelah resmi menjadi dosen ASN pada tahun 2019 ternyata jauh dari ekspektasi. Dengan gaji awal yang hanya berkisar Rp2 jutaan per bulan, ia harus menanggung berbagai biaya hidup, termasuk kebutuhan keluarga, biaya kontrakan, dan pendidikan anak.

Kondisi finansial yang serba terbatas ini membuat Imam tidak mampu memberikan gaji pertamanya kepada orang tuanya. Ia harus mencari cara lain untuk menambah pemasukan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk mencukupi kebutuhan hidup, saya dan istri harus mencari penghasilan tambahan dengan berjualan bubur bayi dan pakaian bayi,” ungkap Imam Akhmad saat ditemui di Kampus ISBI Bandung, seperti dikutip pada Kamis, 9 Juli 2026.

Imam menambahkan bahwa banyak dosen lain yang mengalami nasib serupa. Mereka terpaksa mengambil pekerjaan sampingan, mulai dari menjadi pengemudi ojek daring hingga buruh bangunan, demi menopang ekonomi keluarga.

Menurut Imam, kondisi kesejahteraan yang minim ini sangat berdampak pada fokus para dosen dalam menjalankan tugas mengajar dan memberikan tanggung jawab akademik kepada mahasiswa. Ia berharap gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi dapat menjadi momentum penting untuk mendorong perbaikan kesejahteraan tenaga pendidik.

“Khususnya dosen dan guru, agar mereka dapat menjalankan tugas mencerdaskan bangsa tanpa harus dibebani persoalan ekonomi,” harapnya.

Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan para tenaga pendidik di Indonesia.

Laporan Cepi Kurnia/tvOne Bandung