BI Pede Penjualan Eceran Juni 2026 Terjaga Berkat Suku Cadang & Aksesori

oleh -2 Dilihat
BI Pede Penjualan Eceran Juni 2026 Terjaga Berkat Suku Cadang & Aksesori

KabarDermayu.com – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penjualan eceran pada Juni 2026 akan tetap terjaga, meskipun diperkirakan mengalami kontraksi tipis. Proyeksi ini didasarkan pada Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diperkirakan mencapai 221,6, yang berarti mengalami penurunan sebesar 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, kinerja penjualan eceran ini akan ditopang oleh pertumbuhan positif pada dua kelompok utama. Keduanya adalah kelompok suku cadang dan aksesori, serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya.

Dalam keterangannya pada Kamis, 9 Juli 2026, Ramdan merinci bahwa kelompok suku cadang dan aksesori diperkirakan mencatat IPR sebesar 145,5, menunjukkan pertumbuhan sebesar 11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya diprediksi mencapai IPR 83,8, dengan pertumbuhan 1,8 persen (yoy).

Namun, beberapa kelompok diperkirakan akan mengalami kontraksi. Kelompok barang budaya dan rekreasi diprediksi terkontraksi sebesar 8,5 persen (yoy) dengan IPR 56,4. Kelompok bahan bakar kendaraan bermotor juga diprakirakan terkontraksi 7,8 persen (yoy) dengan IPR 103,5. Kontraksi ini merupakan pembalikan dari periode sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Jika dilihat secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 diproyeksikan turun sebesar -0,8 persen (month-to-month/mtm). Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar -1,5 persen (mtm).

BI mencatat bahwa perbaikan bulanan ini didorong oleh peningkatan penjualan pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang naik 1,9 persen (mtm) dan subkelompok sandang yang melonjak 4,7 persen (mtm). Kenaikan ini sejalan dengan dimulainya periode liburan sekolah pada akhir Juni 2026, yang umumnya meningkatkan permintaan.

Meskipun demikian, beberapa kelompok masih berada di zona kontraksi secara bulanan, namun menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi -2,0 persen (mtm), kelompok suku cadang dan aksesori -3,1 persen (mtm), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau -0,7 persen (mtm).

Untuk realisasi penjualan eceran pada Mei 2026, IPR tercatat sebesar 223,4, yang berarti mengalami kontraksi sebesar -3,9 persen (yoy). Angka ini relatif stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terkontraksi -3,7 persen (yoy).

Kinerja IPR Mei 2026 masih ditopang oleh pertumbuhan penjualan tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori yang mencatat IPR 150,1 atau tumbuh 11,2 persen (yoy). Selain itu, kelompok bahan bakar kendaraan bermotor juga masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 0,3 persen (yoy) dengan IPR 107,0, begitu pula dengan kelompok barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 0,2 persen (yoy) dengan IPR 57,5.

Sebelumnya, pada Mei 2026, penjualan eceran secara bulanan mengalami penurunan sebesar -1,5 persen (mtm). Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan realisasi pada April 2026 yang turun lebih dalam, yaitu -11,6 persen (mtm).

Perbaikan pada Mei 2026 ini didorong oleh peningkatan kinerja penjualan pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor. Masing-masing kelompok ini tumbuh 1,0 persen (mtm) dan 1,3 persen (mtm), sebuah peningkatan signifikan dari kontraksi yang terjadi pada April 2026, di mana kelompok peralatan informasi dan komunikasi tercatat -9,4 persen (mtm) dan bahan bakar kendaraan bermotor 0,2 persen (mtm).

Selain itu, kelompok lainnya juga menunjukkan perbaikan yang tercermin dari kontraksi yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini terlihat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi -1,3 persen (mtm), kelompok barang budaya dan rekreasi -4,2 persen (mtm), serta subkelompok sandang yang mengalami kontraksi lebih dalam sebesar -11,0 persen (mtm).

Perkembangan penjualan eceran pada Mei 2026 ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang berkaitan dengan periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Dari sisi ekspektasi harga, BI memperkirakan tekanan inflasi pada Agustus 2026 akan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 yang diproyeksikan sebesar 178,0, lebih tinggi dibandingkan IEH Juli 2026 yang tercatat 175,8. Kenaikan ekspektasi inflasi ini didorong oleh perkiraan kenaikan harga bahan baku.

Sementara itu, untuk jangka waktu yang lebih panjang, IEH November 2026 diprakirakan sebesar 167,5, yang menunjukkan stabilitas jika dibandingkan dengan IEH Oktober 2026 yang tercatat 167,6. Stabilitas ini mengindikasikan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan harga pada akhir tahun relatif tidak berubah.