KabarDermayu.com – Musim kemarau tahun 2026 telah membawa pukulan telak bagi warga di Blok Oyoran, Desa dan Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, memaksa mereka untuk mencari cara tak lazim demi memenuhi kebutuhan air bersih.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas ketika para warga terpaksa menggunakan air dari balong (kolam) yang berwarna hijau pekat untuk keperluan mandi. Kualitas air yang keruh dan berbau tak sedap ini menjadi satu-satunya pilihan di tengah krisis air bersih yang melanda.
Keluhan demi keluhan dilayangkan oleh warga Krangkeng yang merasakan dampak langsung dari kekeringan yang semakin parah. Ketiadaan sumber air bersih yang layak telah menciptakan kesulitan luar biasa dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga sanitasi dasar.
Menurut penuturan beberapa warga, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan semakin memburuk seiring dengan berlanjutnya musim kemarau. Sumber air sumur yang biasanya menjadi andalan kini mulai mengering atau mengeluarkan air yang tidak layak konsumsi.
“Sudah tidak ada pilihan lain, Mas. Sumur-sumur pada kering, air PAM juga tidak mengalir. Mau bagaimana lagi, yang penting bisa mandi dan membersihkan diri walau airnya seperti ini,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, sambil menunjukkan kondisi balong yang airnya kehijauan.
Warna hijau pada air balong tersebut mengindikasikan adanya pertumbuhan alga dan mikroorganisme lain yang cukup tinggi. Penggunaan air semacam ini untuk mandi berpotensi menimbulkan masalah kesehatan kulit, seperti iritasi, gatal-gatal, bahkan infeksi jika terjadi luka.
Krisis air bersih ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan mandi, tetapi juga merembet ke sektor lain. Ketersediaan air untuk minum, memasak, dan keperluan sanitasi lainnya menjadi barang langka. Warga terpaksa membeli air bersih dengan harga yang lebih mahal dari luar daerah, membebani anggaran rumah tangga yang sudah terbatas.
Pemerintah daerah setempat dikabarkan telah menerima laporan mengenai kondisi ini. Namun, upaya penanganan yang dilakukan sejauh ini dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mendesak warga.
Beberapa warga berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata, seperti mendistribusikan air bersih secara rutin dan memantau kondisi sumber air yang ada. Selain itu, diperlukan juga solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah kekeringan yang kerap melanda wilayah Indramayu setiap musim kemarau.
Kondisi di Krangkeng ini menjadi potret nyata dari kerentanan masyarakat pesisir utara Jawa Barat terhadap perubahan iklim dan dampak ekstrem dari musim kemarau. Ketergantungan pada sumber air permukaan dan air tanah yang rentan mengering membuat mereka lebih rentan terhadap krisis air bersih.
Fenomena ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, termasuk upaya konservasi dan reboisasi di daerah hulu untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau.
Kejadian di Krangkeng ini menjadi pengingat bahwa musim kemarau bukan hanya sekadar cuaca panas, tetapi dapat berujung pada krisis kemanusiaan jika tidak diantisipasi dengan baik. Solidaritas dan kepedulian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk meringankan beban warga yang terdampak.





