Mahasiswa Undip Curhat Harga Beras di Alor, Respons Mentan Amran Viral

oleh -5 Dilihat
Mahasiswa Undip Curhat Harga Beras di Alor, Respons Mentan Amran Viral

KabarDermayu.com – Keberanian seorang Mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) bernama Adriano Padama dalam menyuarakan keresahan masyarakat daerah pelosok telah memicu perhatian nasional. Dalam momen yang tak terduga saat acara penyambutan mahasiswa baru, ia secara terbuka menyampaikan keluh kesah mengenai krisis harga pangan yang melanda kampung halamannya di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aksi Adriano yang memotong sesi pengarahan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bukanlah sebuah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah teriakan aspirasi yang mendesak. Mentan yang merespons dengan sikap terbuka langsung memanggil mahasiswa tersebut ke atas panggung untuk mendengar langsung realita pahit di lapangan.

“Saya dari kabupaten kecil di NTT. Satu-satunya akses distribusi adalah menggunakan kapal,” ungkap Adriano dengan nada emosional di depan audiens, Senin (10/8/2026). Ia menjelaskan bahwa posisi geografis Alor yang berada di dekat samudera membuat distribusi logistik sangat bergantung pada cuaca. Ketika musim penghujan tiba, akses transportasi laut terhambat, yang secara langsung memicu kelangkaan stok pangan di wilayah tersebut.

Kondisi ekonomi di Alor menjadi semakin pelik karena ketimpangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi lokal. Adriano memaparkan bahwa dengan kebutuhan beras mencapai 24 ribu hingga 27 ribu ton per tahun, daerah tersebut hanya mampu memproduksi 10 persen dari total kebutuhan. Kesenjangan inilah yang menjadi pemicu utama lonjakan harga beras yang tak terkendali.

Data yang disampaikan Adriano cukup mencengangkan. Di wilayah perkotaan Alor, harga beras berkisar antara Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Namun, di pedalaman, harga normal berada di angka Rp17 ribu hingga Rp18 ribu. Situasi memburuk saat krisis melanda, di mana harga beras di pelosok bisa melonjak drastis hingga menyentuh Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Lebih lanjut, Adriano menyoroti dampak kemanusiaan yang timbul akibat mahalnya harga beras. Banyak keluarga di pedalaman yang terpaksa mengganti konsumsi beras dengan umbi-umbian. “Yang saya khawatirkan banyak anak kecil terpaksa makan umbi-umbian yang saya tahu kalau mereka makan umbi-umbian maka perut mereka akan penuh gas. Sehingga akan besar, mohon maaf lubang pembuangan mereka akan mengecil,” tuturnya dengan penuh keprihatinan.

Respons cepat ditunjukkan oleh Mentan Amran Sulaiman. Tanpa menunda, ia langsung melakukan sambungan telepon dengan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Amran memberikan instruksi tegas untuk segera memetakan kebutuhan gudang Bulog di Alor dan mendistribusikan beras ke daerah tersebut hari itu juga.

“Pak Dirut itu Kabupaten Alor ada Gudang Bulog di sana? Kalau belum ada bisa bangun gudang di sana ya? Harga beras di sana cukup tinggi. Kirim utusannya kirim beras hari ini ya,” perintah Amran melalui sambungan telepon.

Tak berhenti di situ, Menteri Amran menindaklanjuti curhatan tersebut dengan kunjungan kerja langsung ke Kabupaten Alor. Langkah ini diambil untuk memastikan intervensi pertanian berjalan efektif guna menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Menurut Amran, suara mahasiswa seperti Adriano adalah pengingat penting bagi pemerintah untuk tetap relevan dengan kebutuhan rakyat.

Dalam kunjungannya, Menteri Pertanian memaparkan rencana komprehensif bagi Alor, yang mencakup:

  • Penguatan ketahanan pangan jangka pendek melalui distribusi beras yang terjangkau.
  • Penyediaan benih padi dan jagung yang berkualitas.
  • Distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pompa air untuk mengoptimalkan lahan produktif.
  • Pengembangan sektor perkebunan jangka panjang seperti kelapa, kakao, dan mete sebagai sumber ekonomi berkelanjutan.

Mentan Amran menegaskan bahwa ketersediaan beras di Alor harus memiliki standar harga yang setara dengan wilayah lain di Indonesia. Ia menargetkan harga beras di sana dapat ditekan hingga Rp12.500 per kilogram. “Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu,” pungkasnya dengan tegas.

Kisah Adriano Padama ini menjadi pengingat bahwa sinergi antara aspirasi mahasiswa dan respons cepat pemerintah dapat menjadi instrumen perubahan yang signifikan dalam mengatasi ketimpangan distribusi pangan di wilayah terpencil Indonesia.