Menlu Iran: Selat Hormuz Berubah, Musuh Dilarang Lewat

oleh -6 Dilihat
Menlu Iran: Selat Hormuz Berubah, Musuh Dilarang Lewat

KabarDermayu.com – Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran sedang merancang sebuah mekanisme baru untuk mengelola Selat Hormuz. Hal ini diungkapkan dalam pertemuan dengan anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen pada Senin, 4 Mei 2026. Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi semula.

Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menjelaskan hasil pertemuan tersebut. Ia mengutip pernyataan Araghchi bahwa Iran sedang menyusun mekanisme baru untuk mengelola Selat Hormuz. “Selat ini tidak akan kembali seperti dulu. Kapal-kapal yang bermusuhan tidak akan diizinkan melintas,” tegas Araghchi.

Araghchi menambahkan bahwa situasi Iran saat ini sangat berbeda dibandingkan sebelum terjadinya perang 40 hari. Ia menilai Iran kini dipandang sebagai kekuatan besar. Musuh, menurutnya, mengira Iran akan melemah, namun kenyataannya Iran justru mampu berdiri melawan dua kekuatan nuklir dan menggagalkan tujuan mereka.

Ia merinci bahwa musuh telah menggunakan segala cara, termasuk kerusuhan, kudeta, serangan militer, dan gerakan separatis. Namun, semua upaya tersebut mengalami kegagalan total. Iran bahkan diklaim mampu memperluas dampak perang ke target Amerika Serikat di kawasan dan menutup Selat Hormuz.

Menurut Araghchi, negara-negara kini mengubah cara mereka berbicara kepada Iran. Doktrin keamanan kawasan yang sebelumnya bergantung pada pangkalan Amerika Serikat telah runtuh, karena pangkalan-pangkalan tersebut kini dianggap tidak lagi memberikan keamanan.

Baca juga: Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Sebesar 5,61 Persen

Lebih lanjut, Araghchi menyatakan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan musuh mengenai masalah nuklir. Iran dikatakannya siap menghadapi skenario apa pun. Iran juga menekankan pentingnya gencatan senjata di Lebanon.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada Senin, 4 Mei 2026. Peningkatan tensi ini terjadi setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, yang memicu kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.

Insiden terbaru dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Jalur ini praktis lumpuh akibat blokade dan aksi militer yang dilakukan oleh kedua pihak. Serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam sejumlah target, termasuk kapal-kapal dan fasilitas energi.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru bernama “freedom project”. Proyek ini bertujuan untuk mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.

Namun, langkah tersebut justru memperkeruh situasi di kawasan. Hingga Senin, sejumlah kapal dagang melaporkan adanya ledakan dan kebakaran di perairan Teluk. Militer AS mengklaim telah berhasil menghancurkan enam kapal kecil milik Iran. Sementara itu, sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab dilaporkan terbakar akibat serangan rudal yang dilancarkan Iran.