Iran: Kedaulatan Tak Bisa Ditawar Setelah Gagalnya Proposal Damai

oleh -6 Dilihat
Iran: Kedaulatan Tak Bisa Ditawar Setelah Gagalnya Proposal Damai

KabarDermayu.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya siap siaga untuk merespons setiap agresi dengan tanggapan yang tegas dan memadai. Ia memperingatkan pihak lawan bahwa kesalahan strategi hanya akan berujung pada konsekuensi negatif yang signifikan.

“Angkatan bersenjata kita siap memberikan respons yang pantas terhadap agresi apa pun; strategi dan keputusan yang salah akan selalu menghasilkan hasil yang salah. Seluruh dunia telah menyadari hal ini. Kita siap untuk semua opsi; mereka akan terkejut,” ujar Ghalibaf melalui unggahannya di platform X, seperti dilaporkan oleh PressTV pada Selasa, 12 Mei 2026.

Pernyataan ini disampaikan di tengah sikap Iran yang mempertahankan kebijakan kesabaran strategis dan kesiapan operasional maksimal. Sikap ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman dari Amerika Serikat dan Israel, pasca penolakan proposal perdamaian terbaru dari Iran oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump.

Para pejabat Iran secara konsisten menekankan komitmen Teheran terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan. Namun, mereka juga menegaskan bahwa Iran tidak akan ragu untuk mempertahankan kedaulatannya dengan segenap kekuatan apabila ada garis merah yang dilanggar.

Selama beberapa dekade, Iran telah membangun kapabilitas pertahanan yang kuat. Kemandirian, pengembangan teknologi rudal dan drone yang canggih, serta semangat juang dari Poros Perlawanan, menjadi pilar utama kekuatan pertahanan Iran. Hal ini dirancang untuk mencegah kesalahan perhitungan dari pihak musuh.

Dalam cuitan lanjutannya, Ghalibaf menekankan bahwa tidak ada alternatif lain selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana tertuang dalam proposal 14 poin yang diajukan. Ia berpendapat bahwa pendekatan lain hanya akan menghasilkan kegagalan berulang.

“Pendekatan lain akan sepenuhnya tidak menghasilkan apa-apa; hanya kegagalan demi kegagalan. Semakin lama mereka berlarut-larut, semakin banyak pembayar pajak Amerika yang akan menanggungnya,” imbuhnya.

Pesan Ghalibaf ini menjadi sinyal yang sangat jelas bahwa setiap tindakan gegabah dari pihak lawan akan disambut dengan kejutan yang tidak terduga dan sulit untuk ditahan.

Sebagai respons terhadap agresi yang dilancarkan oleh AS dan Israel, Iran telah mengambil langkah menutup Selat Hormuz untuk pelayaran yang terafiliasi dengan para agresor dan sekutu mereka. Tindakan ini telah memicu kenaikan harga minyak global.

Iran mulai menerapkan kontrol yang jauh lebih ketat di Selat Hormuz sejak bulan lalu. Kebijakan ini diambil menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai blokade yang menargetkan kapal dan pelabuhan Iran.

Baca juga: Pemerintah Dinilai Tepat Terbitkan Skema Cukai Rokok Baru

Dalam beberapa minggu terakhir, kapal perang AS yang mencoba mendekati perairan Iran dengan tujuan mematahkan kendali Iran atas Selat tersebut, dilaporkan berhasil dipukul mundur oleh tembakan langsung dari Iran. Kejadian ini secara efektif membatalkan janji Washington untuk memulihkan pelayaran normal di Teluk Persia, sekaligus semakin merusak citra AS sebagai negara adidaya global.