KabarDermayu.com – Bank Indonesia (BI) secara resmi meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di Jawa Timur. Peluncuran ini merupakan upaya penguatan pasokan, distribusi, dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa GPIPS adalah pengembangan dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Fokus utamanya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan para petani, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan.
“Tujuan kami adalah memastikan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan finansial sejalan dengan prioritas pemerintah,” ujar Aida dalam sambutannya di Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari Rabu.
Ia menambahkan bahwa strategi GPIPS tetap berpegang pada empat pilar utama pengendalian inflasi, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Namun, penekanan khusus diberikan pada aspek ketersediaan pasokan dan distribusi pangan.
Menurut Aida, komoditas pangan memiliki pengaruh signifikan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok ini mengalokasikan sekitar 60 hingga 80 persen dari total pendapatan rumah tangga mereka untuk pengeluaran pangan. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga pangan menjadi prioritas utama bagi pemerintah dan Bank Indonesia.
Baca juga: Penyelundupan Merkuri Senilai Rp30 Miliar ke Filipina Gagal, Berasal dari Tambang Emas Ilegal Ambon
Dalam implementasinya, Aida menyatakan bahwa GPIPS akan diperkuat melalui sinergi yang erat dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Ia memaparkan bahwa GPIPS akan dilaksanakan melalui tujuh program unggulan. Program-program ini dirancang untuk membangun model bisnis pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Contohnya termasuk program hilirisasi pangan, dukungan terhadap program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), serta penguatan pada sektor pengolahan pascapanen.
Pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi peluncuran GPIPS didasarkan pada posisinya yang strategis. Provinsi ini merupakan lumbung pangan nasional dan juga menjadi pusat distribusi untuk kawasan Indonesia Timur. Jawa Timur tercatat sebagai produsen utama untuk berbagai komoditas penting seperti padi, jagung, cabai, tebu, dan susu di tingkat nasional.
Aida juga mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen distribusi pangan untuk 19 provinsi di Indonesia Timur ditopang oleh pasokan dari Jawa Timur. Hal ini didukung pula oleh kapasitas penyimpanan Perum Bulog yang mencapai 22,81 persen dari total kapasitas nasional.
“Kami memilih Jawa Timur juga untuk meminjam semangat patriotik arek-arek Suroboyo dalam menjaga kemerdekaan Indonesia, demi memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat,” pungkas Aida.





