Perjalanan Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

oleh -6 Dilihat
Perjalanan Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

KabarDermayu.com – Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen global dalam menekan emisi karbon dan mendorong penggunaan energi bersih secara masif.

Namun, di tengah semangat transisi energi nasional, realitas menunjukkan bahwa sejumlah wilayah penghasil energi justru masih menghadapi keterbatasan akses listrik yang signifikan.

Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam film dokumenter berjudul “Pelita Asa”. Film ini secara mendalam mengangkat perjalanan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dalam menghadapi transisi energi. Perjalanan tersebut mencakup peralihan dari ketergantungan pada batu bara menuju pemanfaatan energi terbarukan.

Melalui narasi yang kuat, film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa mulai membangun kemandirian energi. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal yang dikelola secara bersama.

Para penonton diajak untuk menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam. Ketiga desa yang berlokasi di Kalimantan Timur ini dipilih karena merepresentasikan tantangan besar dalam implementasi transisi energi.

Tantangan tersebut meliputi dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan batu bara yang masif. Selain itu, keterbatasan akses terhadap listrik dan gas juga menjadi masalah krusial. Ditambah lagi, ancaman hilangnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal akibat pergeseran industri menjadi perhatian serius.

Desa Muara Enggelam menjadi salah satu contoh nyata dari wilayah yang mengalami kendala akses energi. Kondisi geografis desa ini yang tidak memiliki jalur darat membuat pembangunan jaringan listrik konvensional menjadi sangat sulit dilakukan.

Selama bertahun-tahun, warga desa hanya dapat mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Namun, operasional PLTD ini sangat terbatas, hanya berfungsi dari sore hingga malam hari, meninggalkan kegelapan di siang hari.

Aliansyah, Staff Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, mengungkapkan tantangan yang dihadapi desanya. “Di seluruh kecamatan Muara Wis ini hanya Desa Muara Enggelam saja yang tidak punya akses jalur darat. Karena keterbatasan ini, kami dipaksa harus mandiri,” tuturnya dalam cuplikan film “Pelita Asa”.

Situasi sulit tersebut mendorong masyarakat desa untuk mencari solusi mandiri. Mereka berinisiatif membangun PLTS komunal yang kemudian dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes). Aliansyah menambahkan bahwa masyarakat desa bekerja bahu-membahu dalam pembangunan PLTS ini.

“Ini hanya yang bisa kami dapatkan dan sesuai dengan kebutuhan Desa Muara Enggelam,” ujarnya, menegaskan komitmen masyarakat untuk beradaptasi.

Kehadiran PLTS komunal tidak hanya berdampak pada perluasan akses listrik. Lebih dari itu, inisiatif ini mulai memberikan dorongan positif bagi aktivitas ekonomi masyarakat desa. Kini, warga dapat memanfaatkan peralatan elektronik di siang hari.

Aktivitas usaha kecil masyarakat pun menjadi lebih optimal berkat ketersediaan listrik yang stabil. Jam Ah, perwakilan BumDes Desa Muara Enggelam, berbagi pengalamannya.

Baca juga: Uang Rp10,2 Triliun dari Satgas PKH Disetor ke Negara, Ini Sumbernya

“Kalau menurut saya pribadi, menyenangkan dan bahagia. Bisa menggunakan televisi, kipas angin, blender dan mesin cuci di siang hari. Untuk ibu-ibu, setelah ada PLTS, usaha kecil dan menengah (UKM) warung-warung juga meningkat karena sudah bisa menggunakan listrik, dan dari sisi BumDes banyak merangkul karyawan dari masyarakat sendiri,” jelasnya.

Kalimantan Timur selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa provinsi ini merupakan salah satu kontributor terbesar dalam ekspor batu bara Indonesia, dengan nilai mencapai sekitar Rp414 triliun.

Besarnya kontribusi sektor batu bara membuat banyak masyarakat lokal sangat bergantung pada industri ini. Ketergantungan tersebut mencakup pekerja langsung di tambang maupun pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang beroperasi di sekitar kawasan tambang.

Oleh karena itu, implementasi transisi energi dinilai tidak bisa hanya berfokus pada aspek pengurangan emisi karbon semata. Penting untuk memperhatikan pemerataan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.

Project Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) for Southeast Asia kemudian mengangkat realita kompleks ini melalui film “Pelita Asa”. Film ini berupaya menunjukkan bahwa energi terbarukan memiliki potensi besar untuk memperluas akses listrik.

Selain itu, energi terbarukan juga dapat membuka harapan ekonomi baru bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terpencil. Yusuf Suryanto, Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Kementerian PPN/Bappenas, memberikan pandangannya.

Menurutnya, implementasi transisi energi yang berkeadilan memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak. Keterlibatan ini mencakup pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, serta seluruh lapisan masyarakat.

“Transisi energi bukan sekadar peralihan dari energi fosil menuju energi bersih,” tegasnya. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan berkelanjutan bagi seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T.

Film “Pelita Asa” juga secara gamblang menunjukkan dampak positif kehadiran PLTS komunal terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Energi bersih kini dinilai sebagai peluang strategis.

Peluang ini tidak hanya untuk memperluas akses energi, tetapi juga untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Selain itu, energi terbarukan membuka ruang harapan baru bagi wilayah yang selama ini belum menikmati layanan energi secara memadai.

Di saat akses energi konvensional belum sepenuhnya menjangkau daerah 3T, energi terbarukan hadir sebagai solusi. Energi ini menjadi jembatan untuk memperluas akses energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui film dokumenter ini, masyarakat yang tinggal di perkotaan diajak untuk lebih menyadari. Mereka diajak untuk memahami bahwa energi yang mereka nikmati sehari-hari sering kali dipasok oleh daerah-daerah yang justru masih menghadapi keterbatasan akses energi yang serius.