KabarDermayu.com – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) melaporkan bahwa total akumulasi penyaluran pinjaman di industri fintech lending atau pinjaman online (pinjol) telah melampaui angka Rp 1.388 triliun.
Angka tersebut disalurkan kepada lebih dari 169 juta borrower aktif yang telah terlayani sejak industri ini mulai beroperasi.
Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, merinci bahwa sekitar 38 hingga 40 persen dari total borrower tersebut adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Mayoritas dari mereka adalah nasabah yang baru pertama kali mendapatkan akses pendanaan melalui platform pinjol.
Lebih lanjut, Firlie menekankan bahwa lebih dari 90 persen dari para borrower UMKM ini berhasil melunasi pinjaman mereka tepat waktu sesuai dengan perjanjian.
Oleh karena itu, Firlie menegaskan bahwa industri pinjol bukan sekadar penyalur pinjaman.
Keberadaannya justru telah membuka pintu akses ke sistem keuangan nasional, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki akses ke perbankan formal.
“Ada ketidakseimbangan narasi yang perlu dikoreksi, salah satunya tentang jutaan borrower yang berhasil tidak pernah jadi berita. Pinjol adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh,” ujar Firlie dalam keterangan resminya pada Rabu, 10 Juni 2026.
Ia memastikan bahwa banyak pelaku UMKM yang menggunakan pinjol untuk berbelanja stok dagangan, membayar biaya sekolah anak, atau sekadar menambal modal saat arus kas sedang seret.
Kondisi tersebut, lanjutnya, terbukti berhasil mereka lunasi tanpa masalah.
“Dan cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini,” tambahnya.
Firlie menambahkan, Aftech secara aktif memastikan seluruh penyelenggara pinjol yang menjadi anggotanya beroperasi sesuai standar tata kelola yang ketat.
Standar tersebut diberlakukan oleh pemerintah, termasuk transparansi biaya dan bunga sejak awal perjanjian.
Selain itu, penyelenggara juga dituntut memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandar dan dapat diakses publik.
Di tingkat platform, dampak yang dirasakan borrower tidak hanya berhenti pada angka pinjaman yang cair.
Ekosistem yang terbentuk justru jauh lebih luas dari sekadar transaksi finansial semata.
Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menggambarkan bagaimana platform yang dipimpinnya menyaksikan langsung perubahan perilaku ekonomi di antara pengguna Easycash dari waktu ke waktu.
“Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal,” kata Nucky.
“Pinjol bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya.
Dan itu yang membuat pekerjaan ini punya makna,” ujarnya.





