KabarDermayu.com – Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengapresiasi keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen. Langkah ini dinilai tepat untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang terdampak gejolak global.
Ibrahim menilai momentum kenaikan suku bunga kali ini sangat strategis. Hal ini dikarenakan keputusan tersebut diambil di tengah meredanya tensi geopolitik global.
“Momentumnya sangat bagus sekali, disebabkan oleh tensi geopolitik sedikit mereda akibat pernyataan dari Trump agar Iran dan Israel tidak kembali saling serang,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurutnya, kebijakan ini memberikan sinyal kuat kepada pasar. BI menunjukkan keseriusannya dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian global.
“Nah, ini momentum yang paling bagus, dan bagi saya Bank Indonesia sangat tepat sekali dalam membuat satu kebijakan dengan menaikkan suku bunga,” ujarnya.
Ibrahim menjelaskan, tujuan utama kenaikan suku bunga adalah untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, langkah ini juga mengantisipasi risiko kenaikan inflasi yang diperkirakan muncul akibat meningkatnya harga barang impor.
“Kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk menstabilkan mata uang rupiah dan inflasi pun juga tetap terjaga,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, inflasi kemungkinan besar akan terus meningkat setiap bulan. Hal ini disebabkan oleh dampak kenaikan harga barang-barang impor.
“Karena kita melihat bahwa inflasi kemungkinan besar setiap bulan ya. Bulan ini pun juga kemungkinan akan mengalami kenaikan, karena dampak dari kenaikan harga barang-barang impor,” ujarnya.
Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa beban menjaga stabilitas ekonomi tidak bisa hanya ditanggung oleh BI. Pemerintah juga perlu mengeluarkan kebijakan yang sejalan.
Tujuannya agar rupiah dapat memberikan hasil yang lebih kuat dan berkelanjutan. Kolaborasi kebijakan antara pemerintah dan BI sangat krusial.
“Kebijakan BI dengan menaikkan suku bunga ini sudah cukup bagus. Nah, tinggal bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah bersama-sama dengan Bank Indonesia untuk menstabilkan mata uang rupiah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ibrahim mewanti-wanti kemungkinan BI harus mengambil langkah yang lebih agresif. Hal ini perlu dilakukan apabila situasi global kembali memburuk dalam beberapa bulan ke depan.
“Ada kemungkinan besar kalau kondisi global masih memburuk, kemungkinan besar Bank Indonesia sampai akhir tahun akan menaikkan suku bunga 200 basis poin, bisa di 2 persen,” ujarnya.





