KabarDermayu.com – Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami erupsi disertai guguran awan panas pada Sabtu malam, 17 Mei 2026.
Peristiwa erupsi ini dilaporkan terjadi pada pukul 19.04 WIB. Tinggi kolom letusan yang teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak, atau setara dengan 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kolom abu yang membumbung teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Arah condong abu tersebut adalah ke arah barat daya.
Erupsi ini juga tercatat dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm. Durasi dari letusan ini dilaporkan sekitar 5 menit 16 detik.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, menjelaskan bahwa erupsi tersebut disertai dengan awan panas guguran. Namun, jarak luncur awan panas tersebut tidak dapat teramati secara pasti.
Hal ini dikarenakan lereng Gunung Semeru saat itu tertutup oleh kabut tebal.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada pukul 20.30 WIB. Pada erupsi kedua ini, tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Meskipun demikian, aktivitas ini tetap terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi selama 171 detik.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru telah ditetapkan pada status Level III, yang berarti Siaga.
Ada beberapa rekomendasi yang dikeluarkan untuk masyarakat terkait status siaga ini. Masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan.
Jarak aman yang ditetapkan adalah sejauh 13 km dari puncak, yang merupakan pusat erupsi.
Selain itu, di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas pada radius 500 meter dari tepi sungai, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan.
Larangan ini diberlakukan karena adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai jarak 17 km dari puncak.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru.
Area ini dianggap rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Selanjutnya, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar.
Bahaya ini terutama mengancam di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Beberapa aliran sungai yang perlu diwaspadai termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Baca juga: Chelsea Tak Berdaya di Wembley, Manchester City Juara Piala FA
Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.





