Harga Bensin Diprediksi Sulit Turun Jangka Panjang Akibat Perang

oleh -7 Dilihat
Harga Bensin Diprediksi Sulit Turun Jangka Panjang Akibat Perang

KabarDermayu.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan masih akan bertahan tinggi dalam beberapa waktu ke depan, bahkan jika konflik yang melibatkan Iran mereda. Para analis berpendapat bahwa pemulihan pasar minyak global akan memakan waktu yang cukup lama.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah gangguan pada distribusi energi di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute krusial untuk pengiriman minyak dunia dari kawasan Teluk Persia. Penutupan atau gangguan pada jalur ini sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak dan bensin secara global.

Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat dilaporkan mencapai US$4,54 per galon. Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, angka ini setara dengan sekitar Rp77.180 per galon.

Angka tersebut merupakan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan harga sebelum konflik terjadi. Saat itu, harga bensin berada di bawah US$3 per galon, atau kurang dari sekitar Rp51.000 per galon.

Patrick De Haan, Kepala Analisis Perminyakan di GasBuddy, menjelaskan bahwa meskipun pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memberikan penurunan harga BBM dalam jangka pendek, pemulihan penuh diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.

De Haan memperkirakan bahwa sepertiga pertama dari penurunan harga mungkin terjadi dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan. Sepertiga berikutnya bisa memakan waktu antara tiga hingga enam bulan. Sementara itu, harga bensin kemungkinan baru akan kembali ke level sebelum konflik, yaitu pada awal hingga pertengahan tahun 2027.

Menurut De Haan, lamanya proses pemulihan ini disebabkan oleh belum pulihnya sepenuhnya distribusi minyak dari Timur Tengah. Selain itu, produksi minyak mentah dari negara-negara Teluk Persia juga perlu ditingkatkan kembali setelah sempat mengalami pengurangan akibat gangguan ekspor.

Senada dengan itu, Rob Smith, seorang analis bahan bakar dari S&P Global Energy, juga memperkirakan bahwa lalu lintas pengiriman energi melalui Selat Hormuz tidak akan langsung kembali normal. Ia menyatakan bahwa bahkan jika konflik militer benar-benar berakhir secara permanen, masih dibutuhkan waktu beberapa bulan sebelum lalu lintas di Selat Hormuz kembali ke tingkat seperti sebelum terjadi konflik.

Konsultan energi dari Rystad Energy menyebutkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap selama 30 hari saja sudah termasuk dalam skenario yang optimistis. Mereka memperkirakan bahwa pemulihan volume pengiriman minyak baru akan mulai terlihat paling cepat pada bulan Juni 2026.

Selain faktor distribusi, harga BBM juga masih dipengaruhi oleh stok lama yang dibeli saat harga minyak dunia masih tinggi. Oleh karena itu, meskipun harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan, harga BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) biasanya tidak langsung ikut turun dengan cepat.

Fenomena ini dikenal dengan istilah pola “rocket and feathers”. Pola ini menggambarkan bagaimana harga BBM naik dengan cepat ketika harga minyak melonjak, namun turun secara perlahan ketika harga minyak melemah.

Di sisi lain, pasar juga masih diliputi kekhawatiran mengenai potensi gangguan baru di Selat Hormuz di masa depan. Gregory Brew, seorang analis dari Eurasia Group, menilai bahwa Iran kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat setelah berhasil menunjukkan kemampuannya dalam mengganggu jalur perdagangan energi global.

Brew berpendapat bahwa setelah berhasil melakukannya sekali, Iran kini dapat secara kredibel mengancam untuk menutup Selat Hormuz lagi di masa mendatang. Ia menambahkan bahwa meskipun kemampuan militer Iran mungkin telah melemah, namun belum sepenuhnya hancur, sehingga masih mampu memengaruhi aktivitas pengiriman minyak dunia.

Baca juga: TNI AD Imbau Warga Papua Tetap Tenang Hadapi Film 'Pesta Babi

S&P Global Energy memperkirakan bahwa harga bensin di Amerika Serikat kemungkinan masih akan berada di atas level sebelum konflik hingga akhir tahun ini.