Harga Minyak Dunia: Gencatan Senjata Iran-Israel Picu Risiko

oleh -5 Dilihat
Harga Minyak Dunia: Gencatan Senjata Iran-Israel Picu Risiko

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Iran dan Israel mengindikasikan adanya penghentian sementara serangan yang sebelumnya memicu kekhawatiran di pasar energi global.

Meredanya ketegangan antara kedua negara tersebut membuat kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak berkurang. Meskipun demikian, para investor tetap mewaspadai kemungkinan eskalasi konflik baru di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan dari Economic Times, pada pukul 07.25 waktu setempat, harga minyak mentah Brent tercatat turun 0,60 persen. Nilainya mencapai US$93,72 per barel, atau sekitar Rp1,69 juta per barel dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga mengalami pelemahan. Nilainya turun 0,50 persen menjadi US$90,83 per barel, setara dengan Rp1,63 juta per barel.

Penurunan harga ini terjadi sehari setelah harga minyak sempat melonjak hingga 5 persen. Lonjakan tersebut dipicu oleh serangan terbaru Israel ke Iran dan serangan di Lebanon, yang semakin memperburuk kekhawatiran pasar mengenai potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Namun, sentimen pasar berubah setelah militer Iran mengumumkan berakhirnya operasi militer terhadap Israel. Meskipun demikian, pasar masih menunjukkan keraguan mengenai keberlanjutan penghentian serangan tersebut dalam jangka panjang.

Iran dan Israel Sepakat Hentikan Serangan

Iran dan Israel secara resmi menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain. Kesepakatan ini dicapai setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak kedua negara untuk segera menghentikan aksi saling serang tersebut.

Meskipun telah sepakat untuk menghentikan serangan, kedua negara tetap memberikan peringatan terkait kemungkinan konflik kembali pecah di masa mendatang. Iran menegaskan akan kembali melancarkan serangan jika Israel terus menyerang kelompok Hezbollah di Lebanon.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya akan merespons dengan keras apabila Iran kembali melakukan serangan. Donald Trump juga mengungkapkan kepada Axios bahwa dirinya telah memperingatkan Netanyahu agar tidak melanjutkan perang dengan Iran.

Menurut Trump, Israel berisiko menghadapi konflik tersebut sendirian apabila memilih untuk kembali berperang. Selain isu konflik militer, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Sebelum serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia melewati jalur strategis ini.

Salah satu isu utama dalam pembahasan perdamaian saat ini adalah dorongan Amerika Serikat agar Iran kembali membuka akses penuh ke Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial bagi distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara tujuan.

Bagaimana Prospek Harga Minyak?

Lembaga riset Haitong Futures menilai bahwa harga minyak mentah masih berpotensi untuk bergerak lebih tinggi. Menurut analisis mereka, ketatnya pasokan dan permintaan global, ditambah dengan penurunan stok minyak dunia, dapat mendorong harga menuju batas atas dalam kisaran perdagangannya.

Analis juga memberikan peringatan bahwa meskipun gencatan senjata telah tercapai, aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz kemungkinan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Pemulihan bisa memakan waktu lebih lama jika terdapat kerusakan pada infrastruktur energi.

Peringatan serupa sebelumnya pernah disampaikan oleh Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser. Pada bulan lalu, ia menyatakan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat stabilitas pasar minyak global hingga tahun 2027.

Menurut Nasser, gangguan yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi hampir 100 juta barel pasokan minyak setiap minggunya. Sementara itu, Morgan Stanley menyebut kondisi pasar minyak saat ini sebagai sebuah perlombaan melawan waktu.

Bank investasi tersebut menilai bahwa faktor-faktor yang selama ini menahan kenaikan harga minyak dapat berkurang apabila Selat Hormuz tetap tertutup sepanjang bulan Juni. Morgan Stanley menjelaskan bahwa peningkatan ekspor minyak mentah Amerika Serikat dan melemahnya permintaan dari China sejauh ini telah membantu mengurangi dampak gangguan pasokan.

Namun, jika penutupan jalur strategis tersebut berlangsung lebih lama, pasokan global berpotensi kembali mengetat dan mendorong harga minyak naik lebih tinggi.