Harga Minyak Dunia Anjlok: DPR Dorong Pertamina Turunkan Pertamax

oleh -3 Dilihat
Harga Minyak Dunia Anjlok: DPR Dorong Pertamina Turunkan Pertamax

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan signifikan menyusul adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka kembali blokade di Selat Hormuz.

Menyikapi tren penurunan harga minyak mentah global ini, anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, memberikan pandangannya. Ia mendorong agar PT Pertamina (Persero) dapat mempertimbangkan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax.

Namun demikian, Eddy Soeparno menekankan bahwa penurunan harga Pertamax tidak bisa dilakukan secara instan. Terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh Pertamina sebelum melakukan penyesuaian harga.

Salah satu alasan utama adalah kewajiban Pertamina untuk menghabiskan stok minyak yang telah dibeli saat harga pasar dunia masih berada pada level yang tinggi. Hal ini merupakan strategi bisnis yang lumrah dilakukan perusahaan dalam mengelola persediaan.

“Kita juga harus melihat dan mengantisipasi berapa nilai dan volume BBM yang telah dibeli oleh Pertamina dengan harga pada saat masih tinggi,” jelas Eddy saat dihubungi pada Selasa, 16 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga baru dapat dilakukan setelah volume stok minyak mentah yang dibeli dengan harga tinggi tersebut habis terpakai. Dengan demikian, Pertamina dapat melakukan kalkulasi ulang terhadap biaya produksi dan menetapkan harga jual yang lebih sesuai dengan kondisi pasar terkini.

“Sehingga ketika nanti volume itu sudah habis terpakai, tentu bisa dilakukan penyesuaian terhadap harga BBM ke depannya,” lanjutnya.

Eddy Soeparno juga mengingatkan bahwa dalam situasi sebaliknya, ketika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, harga Pertamax tidak serta-merta langsung naik. Pertamina diketahui memiliki kebijakan untuk menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut selama periode tertentu, bahkan hingga empat bulan.

“Oleh karena itu penyesuaian (harga BBM nonsubsidi) memang membutuhkan waktu tentunya,” ungkap Eddy, menekankan pentingnya proses yang bertahap dalam penyesuaian harga BBM.

Di sisi lain, Wakil Ketua MPR RI ini memprediksi bahwa jenis BBM nonsubsidi yang kemungkinan akan mengalami penurunan harga lebih dulu adalah kategori super premium. Kategori ini biasanya memiliki margin yang lebih fleksibel untuk disesuaikan.

“Saya juga mengantisipasi bahwa yang akan turun terlebih dahulu adalah BBM yang super premium misalnya Pertamax Dex, Pertamax Turbo, RON 98 itu akan turun terlebih dahulu,” kata Eddy.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa negaranya dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung di kawasan Timur Tengah. Pengumuman ini disambut baik oleh pasar global, terutama sektor energi.

“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Minggu, 14 Juni 2026.

Nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua negara tersebut dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Lokasi netral ini dipilih untuk memfasilitasi proses penandatanganan.

Dalam kesepakatan damai tersebut, Trump menegaskan komitmennya untuk segera membuka blokade di Selat Hormuz serta membuka akses ke pelabuhan-pelabuhan di Iran. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan arus perdagangan dan mobilitas di wilayah strategis tersebut.

Konflik antara AS dan Iran sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak drastis hingga mencapai sekitar 120 dolar AS per barel di pasar perdagangan. Angka ini merupakan kenaikan signifikan dibandingkan harga di pasar global sebelum kedua negara terlibat perselisihan, yang berkisar di angka 70 dolar AS per barel.

Setelah pernyataan damai dari Donald Trump dan adanya kepastian berakhirnya konflik, harga minyak Brent dilaporkan mengalami koreksi tajam. Pada Senin, 15 Juni 2026, harga minyak Brent merosot ke level 83,55 dolar AS per barel, menunjukkan respons pasar yang positif terhadap perkembangan situasi geopolitik.