IHSG Kena Imbas: Rosan Ungkap Pendekatan Investasi Jangka Panjang

oleh -5 Dilihat
IHSG Kena Imbas: Rosan Ungkap Pendekatan Investasi Jangka Panjang

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami pelemahan akibat sentimen negatif pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor. Menanggapi hal ini, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pendekatan investasi yang ideal adalah berorientasi pada jangka panjang.

Pernyataan tersebut disampaikan Rosan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menekankan bahwa fokus utama dalam dunia investasi seharusnya tertuju pada strategi jangka panjang.

Menurut Rosan, koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Pasar modal secara umum memang tengah menghadapi tekanan. Hal ini diperparah dengan keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan enam saham Indonesia dari daftar MSCI Global Standard Index.

Baca juga: Mulai 1 Juni, Medsos Malaysia Wajibkan Verifikasi Usia Pengguna

Meskipun demikian, Rosan meyakini bahwa fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat. Ia menyoroti kinerja solid bank-bank Himbara yang mencatatkan imbal hasil (yield) berkisar antara 10 hingga 11 persen.

Rosan menjelaskan bahwa sentimen pasar dipengaruhi oleh faktor teknikal dan persepsi. Namun, ia optimis bahwa fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan tetap baik. Tekanan pasar saat ini dianggapnya bersifat sementara, dan ia memprediksi kondisi akan membaik dalam jangka menengah hingga panjang.

Data menunjukkan bahwa IHSG pada Kamis sore ditutup melemah sebanyak 223,56 poin atau 3,54 persen, berada di posisi 6.094,94. Rencana sentralisasi ekspor komoditas oleh BUMN ekspor disebut sebagai pemicu utama pelemahan IHSG.

Pelaku pasar, baik domestik maupun asing, memberikan respons negatif terhadap rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA). Pengaturan mengenai BUMN sebagai eksportir tunggal untuk komoditas strategis menjadi perhatian utama.

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN khusus ekspor untuk sektor sumber daya alam juga menjadi salah satu sentimen negatif yang diperhitungkan pelaku pasar.

PT DSI berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Tugas utamanya adalah memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis, seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan paduan besi (ferro alloy).

Salah satu alasan utama di balik pembentukan BUMN ekspor khusus ini adalah dugaan praktik underinvoicing (kurang bayar) dalam ekspor komoditas. Praktik ini diduga telah merugikan negara hingga Rp15.400 triliun selama periode 34 tahun.